Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

GPIB Pniel Singaraja: Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kolonial Belanda yang tak Lekang Ditelan Zaman

Dian Suryantini • Jumat, 29 November 2024 | 04:00 WIB
SAKSI BISU: Gereja Pniel Singaraja yang berlokasi di Jalan Ngurah Rai Singaraja merupakan saksi bisu sejarah kolonial Belanda yang tak lekang ditelan zaman.
SAKSI BISU: Gereja Pniel Singaraja yang berlokasi di Jalan Ngurah Rai Singaraja merupakan saksi bisu sejarah kolonial Belanda yang tak lekang ditelan zaman.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk-pikuk modernitas Singaraja, GPIB Pniel berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Bali.

Gereja Protestan tertua di pulau ini, yang didirikan pada tahun 1938 oleh pemerintahan kolonial Belanda, menyimpan jejak tak ternilai dari era yang telah berlalu.

Gereja ini awalnya dikenal sebagai Nederland Hervormde Kerk, yang berarti “gereja Belanda yang pertama”. Dibangun sebagai tempat ibadah bagi para pegawai pemerintahan kolonial dan wisatawan Belanda, bangunan ini menjadi simbol kehadiran Belanda di Bali pada masa itu.

Pendeta Christine Djama Kaunang, yang kini memimpin GPIB Pniel, menjelaskan bahwa lokasi gereja ini tak lepas dari peran Singaraja sebagai pusat administrasi pada zaman kolonial.

Kota ini pernah menjadi ibu kota Afdeling Bali dan Lombok, serta Provinsi Soenda Ketjil hingga tahun 1960.

Awalnya, lahan gereja ini adalah tanah milik Puri yang disebut tanah eigendom.

Eigendom verponding adalah jenis surat tanah zaman Belanda, atau produk hak atas tanah yang berlaku pada zaman kolonial.

“Pemerintah kolonial Belanda membeli lahan ini untuk membangun gereja bagi pegawai dan wisatawan mereka,” kata Pendeta Christine.

Bangunan awal gereja berukuran sederhana, hanya 7 x 12 meter, namun sarat dengan ciri khas arsitektur kolonial bergaya gotik.

Meski telah berusia 86 tahun, gereja ini tetap mempertahankan keindahan aslinya.

Menara lancip menjulang tinggi, jendela berjalusi dengan dua daun, dan lonceng kuno peninggalan Belanda menjadi daya tarik yang tak lekang oleh waktu.

Lonceng tersebut masih dibunyikan setiap ibadah Minggu, memberikan nuansa spiritual yang unik bagi jemaatnya.

Seiring waktu, gereja ini telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk memastikan kekokohannya tanpa mengubah esensi desain kolonialnya.

Salah satu renovasi besar dilakukan pada 20 September 1955, diikuti pemugaran lanjutan pada 10 November 1982 untuk memperindah bangunan.

Ketika Belanda kalah dari Jepang dalam Perang Dunia II, gereja ini diserahkan kepada Raja Buleleng, Anak Agung Panji Tisna.

Perubahan kepemilikan ini menjadi babak baru dalam sejarah gereja, yang kini menjadi rumah bagi komunitas Protestan lokal.

“Bangunan ini bukan sekedar tempat ibadah, tetapi juga simbol dari masa lalu yang harus dijaga. Kami berupaya merawatnya agar tetap berdiri megah untuk generasi mendatang,” ujar Pendeta Christine dengan penuh semangat.

GPIB Pniel Singaraja bukan hanya tempat untuk berdoa, melainkan juga jendela yang membuka kembali lembaran sejarah.

Dengan arsitektur megah dan nilai historisnya, gereja ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Singaraja.

Di setiap dinding dan sudutnya, tersembunyi cerita tentang masa kolonial, transisi kekuasaan, dan upaya untuk tetap relevan dalam lintasan waktu.

Gereja ini adalah bukti bahwa warisan masa lalu dapat terus hidup, memberikan inspirasi di masa kini, dan menjaga harapan untuk masa depan. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#kolonial #bisu #belanda #saksi #GPIB #sejarah #gereja #singaraja