Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wabup Suiasa Hadiri Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Badung

Putu Resa Kertawedangga • Selasa, 3 Desember 2024 | 03:17 WIB
MEMPERINGATI: Wabup Badung I Ketut Suiasa menghadiri acara Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Badung, di Galeria Food Terrace, Mall Bali Galeria, Kuta, Minggu (1/12).
MEMPERINGATI: Wabup Badung I Ketut Suiasa menghadiri acara Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Badung, di Galeria Food Terrace, Mall Bali Galeria, Kuta, Minggu (1/12).

 

BALIEXPRESS.ID - Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa yang juga selaku Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung, Minggu (1/12/2024) menghadiri acara Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Badung.

Acara di Galeria Food Terrace, Mall Bali Galeria, Kuta yang mengangkat tema "Take The Rights Path; My Health, My Right!” Atau “Hak Setara Untuk Semua, Bersama Kita Bisa”.

Pada kesempatan tersebut Wabup I Ketut Suiasa didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dr. Made Padma Puspita beserta jajarannya, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Badung I Nyoman Gunarta, Perbekel Buduk I Ketut Wira Adi Atmaja, Perbekel Pererenan I Made Rai Yasa, Lurah Kapal I Nyoman Adi Setiawan, serta siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Badung.

Wabup Ketut Suiasa menyampaikan, peringatan Hari AIDS sedunia merupakan pemantik untuk meningkatkan kesadaran kolektif, juga memberikan hak kesetaraan. Sejalan dengan tema hari AIDS Sedunia sudah memberikan suatu gambar bahwa dalam menangani HIV-AIDS itu tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri.

“Jadi tidak bisa kita lakukan sepihak-sepihak tapi harus melibatkan semua elemen, semua unsur. Kita harus melakukan dengan cara yang kolaboratif dan bersama melakukan gerakan. Hanya dengan hal itulah kita akan bisa menangani HIV. Apalagi kita hanya punya waktu lagi lima tahun saja, karena di tahun 2030 kita ditargetkan untuk zero HIV-AIDS. Ada tiga zero dalam menangani HIV, menyetop adanya pertumbuhan, penambahan kasus yang baru, kita stop pada kematian, yang terakhir, yang paling suling stop stigma,” ujarnya.

Wabup Suiasa juga menjelaskan, kasus HIV/AIDS per September 2024 tercatat sekitar 5.000 kasus. Hal ini disebutkan sebagai tantangan bagi seluruh pihak untuk dapat menanggulangi penyebarannya. Ia pun menyenutkan, adanya kasus ini setidaknya harus dilakukan deteksi dini terutama di titik kerawanan.

“Menurut hemat saya ini juga termasuk pandemi. Kan masalah global, Ya kan, pandemi HIV-AIDS ini bisa kita telusuri namun tidak mudah. Karena kita harus bisa menyadarkan orang untuk mau jujur dan mengakui bahwa dia adalah sebagai orang penderita. Ada kecenderungan yang terkena HIV/AIDS itu adalah orang yang sifatnya tertutup. Mungkin rasa malu, mungkin sudah patah harapan hidup atau frustrasi. Mungkin dia akan tahu risiko masalah sosialnya, mendapat Hukum sosial dan terdiskriminasikan,” jelasnya.

Lebih lanjut pihanya menerangkan, menghilangkan stigma yang berlaku di masyarakat mendiskriminasi harus dihilangkan. Sebab masih banyak asumsi-asumsi yang salah, atau keliru dari masyarakat. Seperti jika berhadapan dengan orang yang penderita penyakit HIV-AIDS.

“Padahal orang yang terjangkit virus HIV-AIDS, itu sendiri sebenarnya dia mengalami penyakit yang persis sama juga dengan penderita yang lainnya. Sama kondisinya dengan orang yang TBC, sama dengan orang yang penyakit jantung, sama dengan status keadaannya dengan orang yang mengalami penyakit liver. Sama dengan orang yang sakit ginjal, lain sebagainya,” terangnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#Penanggulangan #bali #AIDS #tbc #kpa #badung