BALIEXPRESS.ID-Anggota DPR RI, Nyoman Parta menyebut bahwa di Indonesia, lebih dari 280 bahasa daerah dilaporkan telah hilang atau punah.
Salah satunya disebabkan oleh berkurangnya penutur aktif.
Baca Juga: Abrasi di Pantai Monggalan Klungkung Makin Parah, Warga Terpaksa Mengungsi
Hal itu diungkap Nyoman Parta dalam rapat konsinyering dengan Kementerian Kebudayaan yang diunggah melalui media sosialnya.
Nyoman Parta menyebut, meskipun suku-suku yang bersangkutan masih ada, bahasa daerah tersebut tidak lagi digunakan oleh generasi muda.
Fenomena ini juga terjadi di Bali, di mana jumlah penutur bahasa Bali terus menurun, bahkan dalam acara-acara sakral seperti rangkaian upacara pawiwahan, memadik, dan nyentana, bahasa Indonesia mulai lebih banyak digunakan.
“Di Bali juga mengalami hal yang sama jumlah penutur bahasa Bali makin berkurang, bahkan acara - acara sakral pun seperti rangkaian acara pawiwahan, Memadik, Nyentana, dll sdh menggunakan bahasa Indonesia,” tulis Nyoman Parta dikutip pada Rabu, (04/12/2024).
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kelangsungan bahasa Bali, yang merupakan salah satu warisan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Bali.
Generasi baru yang lahir saat ini semakin jarang menggunakan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak terbayangkan bagaimana masa depan bahasa ini jika tidak ada upaya untuk melestarikannya.
“Begitu juga generasi baru yang hadir jarang menggunakan bahasa Bali, tidak bisa dibayangkan jika bahasa Bali punah?” ungkapnya.
Kehilangan bahasa daerah tentu juga berarti hilangnya bagian dari identitas budaya yang sangat berharga.
Pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa bahasa daerah seperti bahasa Bali tidak hanya tetap hidup, tetapi juga berkembang seiring zaman.
Editor : Wiwin Meliana