Hari pertama dimulai dengan beragam aktivitas di Desa Mengwi, termasuk penciptaan tari musikal Aci Tulak Tunggul dan pawai budaya gamelan Tektekan. Acara ini ditutup dengan penampilan tari Jelajah Pura Taman Ayun, yang mengangkat nilai harmoni kosmis antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Karya penciptaan Aci Tulak Tunggul ini menceritakan Taman Ayun sebagai Danu Kertih, yakni air sebagai sumber kehidupan yang mengairi beberapa subak, menjaga regulasi air tetap teratur dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
Kisah ini bermula pada masa pemerintahan Raja Mengwi, Cokorda Nyoman Mayun. Alkisah, kelalaian dalam melaksanakan ritual di kolam Taman Ayun mengakibatkan jebolnya tanggul, membawa dampak buruk bagi masyarakat sekitar.
Dengan petunjuk leluhur, raja melaksanakan tapa, yoga, dan semadi di Puncak Pengelengan hingga menerima wahyu untuk menyelenggarakan ritual Aci Tulak Tunggul.
Ritual tersebut diadakan bertepatan dengan pujawali Pura Taman Ayun, mencakup persembahan sesajen dan pekelem, serta pertunjukan tari Baris Kraras. Tari ini khas dengan kostum berbahan daun pisang kering dan hiasan kepala dari bahan daging babi, melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.
Pelaksanaan ritual ini membawa perubahan besar. Air kembali mengalir dengan baik, hasil panen melimpah, dan masyarakat menikmati ketahanan pangan serta kesejahteraan. Tradisi Aci Tulak Tunggul pun terus dilaksanakan hingga kini sebagai penghormatan terhadap warisan leluhur.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap cerita bersejarah ini, seniman Desa Mengwi menggubahnya menjadi sebuah karya tari musikal berjudul Aci Tulak Tunggul. Dengan tata musikal yang kaya, karya ini menghidupkan kembali seluruh rangkaian ritual dalam bentuk seni pertunjukan yang memukau.
Karya ini tidak hanya menjadi representasi budaya, tetapi juga upaya menjaga ingatan kolektif tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Melalui seni, nilai-nilai harmoni, ketahanan, dan penghormatan terhadap alam diwariskan kepada generasi muda.
Anak Agung Gede Agung, Penglingsir Puri Agung Mengwi, menegaskan bahwa Subak dan Pura Taman Ayun adalah simbol jiwa budaya Bali.
“Melalui aktivasi ini, kami melibatkan generasi muda untuk melestarikan warisan leluhur yang sarat nilai harmoni,” ujarnya.
Menurut Gusti Anom Astika dari Kementerian Kebudayaan, tari musikal dan pawai budaya ini menunjukkan sinergi antara edukasi budaya dan pelestarian tradisi. Ia menambahkan, “Kami harap program ini menjadi referensi nasional dalam pengelolaan ekosistem budaya.”
Pada 8-9 Desember ini, fokus kegiatan bergeser ke tujuh desa Subak Catur Angga Watu Karu, yaitu Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede. Aktivitas seperti parade panen, pawai seni, jelajah subak, dan lomba kreatif memperkaya pengalaman peserta sekaligus memperkenalkan tradisi agraris kepada publik.
Camat Penebel, I Putu Agus Hendra Manik Astawa, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam kegiatan ini. “Kawasan Subak Catur Angga Watu Karu adalah fondasi budaya dan ekonomi kami. Dengan program ini, tradisi lokal dapat terus dikenal dunia,” katanya.
Sementara itu, Pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV menyoroti dokumentasi ritual Sanghyang sebagai langkah strategis menjaga nilai sakral budaya. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan berbasis budaya lokal.
Kepala desa dan pihak adat dari seluruh wilayah Catur Angga menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Dengan melibatkan masyarakat, wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan tradisi agraris Bali, menciptakan pengalaman budaya yang otentik dan mendalam.
Program ini melibatkan lebih dari 1.500 peserta dari delapan desa, termasuk anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Komunitas budaya di Mengwi dan Penebel turut serta, menjadikan acara ini sebagai perayaan budaya yang inklusif.
Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi yang menghubungkan inovasi dengan tradisi.
Paket-paket kegiatan seperti lomba kreatif subak dan parade panen tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.(dik)
Editor : I Putu Mardika