Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pemkab Bangli Belum Mampu Tanggulangi Masalah Lalat di Kintamani, Warga Khawatir Picu Penyakit

I Made Mertawan • Selasa, 10 Desember 2024 | 15:00 WIB
Serbuan lalat di Kintamani
Serbuan lalat di Kintamani

BALIEXPRESS.ID- Pemkab Bangli belum mampu mengatasi persoalan lalat di Kintamani.

Di sisi lain, masyarakat khawatir keberadaan lalat ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit.

Seorang pengguna media sosial (medsos) melalui Facebook Pengaduan 24 Jam Bangli Era Baru yang dikelola Pemkab Bangli, mengeluhkan meningkatnya populasi lalat yang terjadi seiring dengan peralihan musim kemarau ke musim hujan.

Ia menduga keberadaan lalat tersebut menjadi penyebab anaknya menderita muntaber yang sudah terjadi dua kali dalam sebulan.

Pengguna medsos tersebut berharap masalah lalat ini dapat segera diatasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. I Nyoman Arsana, mengaku pihaknya telah menurunkan petugas kesehatan untuk menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan di medsos itu.

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa warga tersebut berasal dari Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani.

Langkah ini diambil untuk memastikan keluhan tersebut segera ditangani dengan tepat.

“Saat ini sudah tidak ada yang diare di sana,” kata Arsana pada Minggu (8/12/2024).

Arsana mengungkapkan, sekitar sebulan lalu, memang ada lima orang yang mengalami diare di sana.

Namun, saat ini mereka sudah pulih. Warga menduga bahwa lalat menjadi penyebab munculnya penyakit tersebut. “Kami belum bisa memastikan,” katanya.

Meski demikian, Arsana menyatakan bahwa secara teori, lalat memang dapat membawa bakteri penyebab diare.

Pemerintah, tegas Arsana, sebenarnya sudah memberikan perhatian untuk mengatasinya melalui Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Pertanian, serta melibatkan akademisi. Namun, hingga saat ini belum terlihat hasil yang signifikan.

Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan pola hidup sehat dan bersih, seperti yang dilakukan selama pandemi Covid-19, yaitu rajin mencuci tangan, berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan sehat, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Makanan agar selalu ditutup untuk mengantisipasi dihinggapi lalat.

Seperti diketahui, keberadaan lalat dalam jumlah besar di Kintamani diduga terkait dengan penggunaan pupuk dari limbah pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Wayan Sarma mengungkapkan, permasalahan kerumunan lalat ini tidak hanya terjadi di Kintamani.

“Masalah ini dialami di daerah-daerah, di mana di lingkungan sekitarnya, masyarakat petani menggunakan limbah ternak sebagai pupuk,” kata Sarma.

Terkait hal tersebut, Dinas Pertanian telah sering melakukan sosialisasi ke desa-desa, bahkan mengadakan bimbingan teknis mengenai pengolahan limbah ternak menjadi pupuk melalui proses fermentasi.

Cara ini dinilai efektif untuk menekan populasi lalat. “Namun belum bisa dilakukan sepenuhnya oleh petani karena memang butuh waktu, tempat dan biaya,” kata Sarma. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Kintamani #Serbuan lalat