Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rona Rasa di Pagi Motley, Kisah Anya dan Kain Bermotif Perasaan

Dian Suryantini • Selasa, 10 Desember 2024 | 17:47 WIB

Anya Nisrina, mahasiswa jurusan Kriya dari ITB, saat melukis motif di rumah produksi Pagi Motley, Desa Sembiran, Tejakula-Buleleng.
Anya Nisrina, mahasiswa jurusan Kriya dari ITB, saat melukis motif di rumah produksi Pagi Motley, Desa Sembiran, Tejakula-Buleleng.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah ruang produksi di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Bali, keriuhan kecil terdengar. Suara air yang bergemericik saat kain dicelup, instruksi antarpekerja yang saling bersahutan, hingga tawa ringan di sela-sela aktivitas. Tempat ini adalah Pagi Motley, surga bagi pecinta kain berwarna alami.

Di sudut ruang produksi, tepatnya di bawah pohon mangga, Anya Nisrina (20), mahasiswi semester lima jurusan Kriya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), sedang tekun memukul-mukul kain sepanjang dua meter dengan kuas kecil di tangan kanannya. Fokusnya tak terganggu, meski rekan-rekan sesama peserta magang sibuk hilir-mudik di sekitarnya. Ia sedang menghidupkan konsep untold feelings, ide besar yang ia bawa ke Pagi Motley.

“Ini tentang perasaan yang terpendam. Berat, ya?” kata Anya sambil tersenyum kecil, matanya menerawang seolah mengenang sesuatu.

Anya, yang berasal dari Bandung, memang sedang menyalurkan emosi dalam karya kainnya. “Aku pernah kecewa, tapi itu fase. Jadi, ya, aku salurkan di sini,” lanjutnya.

Konsep yang dibawa Anya memang cukup dalam. Warna yang digunakan dominan adalah warna gelap. Warna ini menggambarkan perasaan seseorang yang terpendam namun sulit untuk diungkapkan. Retakan pada kain karya Anya itu menggambarkan kerapuhan hati seseorang yang telah memendam rasa terlalu lama, sehingga sedikit demi sedikit akan rapuh dan hancur.

Hati yang bingung, kehilangan arah seperti terhalang kabut disimbolisasikan dengan Motif shibori mock dan motif ecoprint.

 

Motif kain yang dibuat oleh Anya dengan kombinasi tepung terigu dan pewarna alami.
Motif kain yang dibuat oleh Anya dengan kombinasi tepung terigu dan pewarna alami.

Prosesnya tak kalah dramatis. Pertama, kain diberi tepung cair, lalu dibiarkan kering. Setelah itu, tepung pada kain dipukul perlahan hingga retak, menciptakan guratan mirip akar tumbuhan atau kilatan petir. Lalu, ia mengoleskan warna-warna gelap dengan penuh ekspresi, menggambarkan hati yang penuh rasa, tapi terkurung.

“Retakan ini simbol perasaan yang perlahan hancur karena terlalu lama terpendam,” jelas Anya, matanya berbinar meski temanya berat.

Tentu saja, ada momen tawa. Ketika ditanya apakah tepungnya bisa jadi cilok, ia tergelak. “Hahaha. Gak boleh atuh, udah terkontaminasi!” katanya sembari tertawa lepas.

Setelah kain selesai diwarnai, proses berlanjut. Anya lalu mencuci, mengeringkan, hingga akhirnya motif indah seperti shibori smock dan ecoprint pun muncul. Hasilnya adalah karya seni yang bukan hanya cantik, tetapi sarat makna. “Motif ini seperti kabut di hati, bingung, kehilangan arah,” tuturnya.

Di Pagi Motley, setiap kain adalah cerita, dan setiap retakan menyimpan emosi. Anya dan rekan-rekan magangnya bukan hanya belajar teknik, tapi juga menuangkan jiwa mereka dalam setiap helai kain. Dan di balik kain berwarna gelap itu, ada cahaya kecil yang perlahan menerobos.

Pesona motif kain karya seni Anya ini menarik perhatian founder Pagi Motley, Kadek Andika Putra. Teknik yang dilakukan oleh Anya akan dicoba di rumah produksi Pagi Motley sebagai teknik baru.

“Ini teknik yang baru saya temui. Mungkin nanti bisa diadopsi dan dilakukan disini,” kata Andika. ***

Editor : Dian Suryantini
#sembiran #tejakula #Warna alami #itb #Pagi Motley #buleleng