SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pemandangan lumba-lumba yang biasa menjadi daya tarik wisata Pantai Lovina kini mulai bergeser. Fenomena migrasi lumba-lumba yang mencapai wilayah Celukan Bawang menjadi tantangan berat bagi para pemandu wisata, yang harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk menemui koloni mamalia laut tersebut.
Ketut Lana, seorang pemandu tur lumba-lumba berpengalaman, mengungkapkan bahwa perubahan ini memengaruhi operasional tur yang biasa menggunakan perahu tradisional jukung. “Biasanya, kami hanya perlu berlayar beberapa mil laut dari Lovina. Tapi sekarang, lumba-lumba berada di Celukan Bawang atau bahkan lebih jauh lagi,” ungkapnya, Kamis (12/12).
Tantangan terbesar adalah biaya operasional yang melonjak akibat jarak tempuh yang lebih jauh. Untuk satu perjalanan, Ketut biasanya menghabiskan 10 liter pertalite. Namun, jika koloni lumba-lumba berada di wilayah Gondol, Kecamatan Gerokgak, atau bahkan Kubutambahan di timur, konsumsi bahan bakar bisa meningkat drastis. Selama empat hari terakhir, ia bahkan harus menggunakan hingga 30 liter bahan bakar.
“Kemarin empat hari kami harus ke Gondol terus. Berangkat jam enam pagi, baru sampai pantai lagi jam satu siang. Capek sekali, tapi tamu harus dilayani,” cerita Lana dengan nada lelah.
Meskipun begitu, semangat para pemandu tak surut. Dengan tarif rata-rata Rp 100 ribu per orang, yang disepakati demi keadilan, mereka tetap berusaha memberikan pengalaman terbaik kepada wisatawan. Kini koloni lumba-lumba tak dapat ditebak. Kadang berputar di sekitar pantai Lovina saja, terkadang menyebar. Jaraknya pun lumayan jauh.
“Mungkin dari sini ke laut 20 kilometer. Kadang kurang dari 20 kilometer. Tidak tentu. Carinya sekitar 30 menit baru ketemu, baru muncul. Itu pun hanya berenang di permukaan. Tidak muncul atau atraksi,” ujarnya.
Perubahan lokasi ini tak lepas dari kehadiran rumpon-rumpon besar di tengah laut. Rumpon ini menarik ikan-ikan kecil, makanan utama lumba-lumba, untuk berkumpul. “Lumba-lumba ikut berkumpul di sana. Jadi, kami tidak bisa lagi menemukannya di dekat pantai seperti dulu,” imbuh Lana.
Tak hanya itu, faktor arus laut dan cuaca juga menjadi penentu. Ketika arus tenang dan cuaca cerah, para pemandu bisa dengan mudah menemukan koloni lumba-lumba. Namun, saat cuaca buruk, segalanya berubah. “Kalau cuaca kacau, tamu kecewa, pemandu stres, dan nelayan pun sulit dapat ikan. Tapi kalau cerah, semua bahagia,” ujarnya penuh harap. ***
Editor : Dian Suryantini