Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Brida Tabanan Kaji Penyumbang Inflasi Saat Hari Raya di Kabupaten Tabanan

IGA Kusuma Yoni • Sabtu, 14 Desember 2024 | 02:30 WIB
Suasana FGD penentuan konten-konten lokal penyumbang inflasi yang diselenggarakan Brida Tabanan Jumat (13/1).
Suasana FGD penentuan konten-konten lokal penyumbang inflasi yang diselenggarakan Brida Tabanan Jumat (13/1).

BALIEXPRESS.ID – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Tabanan, menyatakan tren inflasi di Bali secara umum dan di Tabanan khususnya memiliki kekhasan tersendiri, dimana tren inflasi di Bali sangat dipengaruhi oleh hari raya keagamaan seperti perayaan Galungan dan Kuningan.

Pejabat Fungsional Perencana Brida Tabanan, Ida Ayu Wardiani, menyebutkan kenaikan inflasi pada saat hari raya keagamaan, disebabkan oleh adanya kenaikan beberapa komponen lokal yang diperlukan selama hari Raya.

“Dalam kajian yang kami lakukan, kami mendata jenis-jenis komponen yang berpotensi menaikan inflasi di saat momen hari raya seperti Nyepi, Galungan, dan Kuningan sehingga bisa digunakan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan dalam mengendalikan tingkat inflasi,” jelasnya Jumat (13/12/2024). 

Adapun penyebab melambungnya inflasi pada saat perayaan hari Raya Keagamaan, karena adanya kenaikan harga beberapa komponen lokal yang diperlukan saat perayaan hari Raya Keagamaan. Disamping juga ada kenaikan harga kebutuhan pokok.

Adapun komponen lokal yang mengalami kenaikan saat hari raya keagamaan, seperti daging babi hingga kebutuhan upacara seperti canang dengan beberapa komponen lainnya, seperti bunga, janur, dan sebagainya. Kemudian daging babi.

Kajian ini Wardani mengatakan pihaknya melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mahasaraswati Denpasar, Brida hendak mengkaji sejauh mana konten-konten lokal ini memberikan kontribusi terhadap tingkat inflasi suatu daerah.

Kemudian, hasil kajian tersebut nantinya akan dipakai sebagai acuan pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan intervensi untuk mengendalikan tingkat inflasi.

“Misalnya janur. Di Tabanan juga menghasilkan janur. Apakah nanti (kebijakannya) lewat pembibitan yang didukung oleh Dinas Pertanian. Begitu juga dengan daging babi,” ujarnya mengilustrasikan.

Dengan kata lain, kajian tersebut tidak hanya mengukur kontribusi konten-konten lokal terhadap tingkat inflasi yang terjadi. Namun, kajian ini juga akan menjadi rekomendasi maupun pegangan bagi pemerintah daerah untuk menempuh kebijakan untuk mengendalikan tingkat inflasi.

Wardiani menjelaskan, kajian ini diawali dengan Forum Group Discussion (FGD). Proses kajian ini berlangsung dari November-Desember 2024. “Sekarang ini jenis komponen local ini masih diinventaris. Sejauh ini baru daging babi dan kebutuhan sarana upacara,” tambahnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#inflasi #daging babi #BRIDA #fgd #tabanan