BALIEXPRESS.ID-Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Bali diperkirakan akan kembali dipadati wisatawan, terutama dari negara-negara seperti Australia, India, Tiongkok, Inggris, dan Amerika Serikat.
Namun, beberapa hari menjelang tahun baru, pemerintah Australia mengeluarkan travel warning kepada warganya terkait ancaman penyakit demam berdarah yang beredar di Bali.
Peringatan ini segera mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Bali.
Baca Juga: Tinggi Peminat, Reservasi TUI Blue Berawa Hampir Penuh untuk Nataru Meski Pembangunan Baru 50 Persen
Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjok Bagus Pemayun, menanggapi isu tersebut dengan menyatakan bahwa kasus demam berdarah bukan hanya terjadi di Bali, tetapi juga di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Meskipun demikian, Tjok Pemayun menegaskan bahwa pada umumnya, kasus demam berdarah cenderung rendah pada bulan November hingga Januari, dan angka kasus tinggi justru terjadi pada periode April hingga Mei.
“Sekarang kasus demam berdarah masih ada, namun tidak sebanyak bulan April dan Mei 2024,” ujar Tjok Pemayun.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bali, angka kematian akibat demam berdarah pun relatif rendah, bahkan di bawah 1 persen.
Pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi penyakit ini, seperti gerakan 3M Plus, yaitu menguras bak penampungan air, mengubur barang bekas, menutup bak penampungan air, serta memberikan bubuk abate.
Baca Juga: Remaja di Kintamani Ditemukan Meninggal Dunia, Polisi Duga Akibat Masalah Asmara
“Melihat grafik kasus dalam 48 minggu terakhir, tren kasus demam berdarah memang menunjukkan penurunan,” tambahnya.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, atau yang akrab disapa Gus Agung.
BTB telah menghimpun data dari berbagai sumber resmi, termasuk Dinas Kesehatan Bali, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Bali, dan Perkumpulan Kedokteran Wisata Indonesia wilayah Bali. Gus Agung menegaskan bahwa demam berdarah adalah penyakit yang biasa terjadi di negara tropis seperti Bali, dan kasus ini terjadi setiap tahun.
“Penyakit ini selalu ada setiap tahun, namun penanganan di Bali sudah terkendali dengan baik,” ujar Gus Agung.
Ia menambahkan bahwa pemerintah dan jajaran kesehatan Bali telah menangani setiap kasus sesuai dengan standar pengobatan nasional, sehingga tidak ada dampak signifikan terhadap pelayanan kesehatan. Tingkat hunian rumah sakit di Bali juga masih dalam kategori normal.
Untuk wisatawan yang masih merasa khawatir, Gus Agung menyarankan agar mereka mempertimbangkan untuk mendapatkan vaksin demam berdarah sebelum bepergian.
Baca Juga: Dua Bidan di Yogyakarta Ditangkap Terlibat Kasus Perdagangan Bayi, 66 Bayi Terjual Sejak 2010
Meskipun vaksinasi serupa tersedia di Indonesia, mendapatkan vaksin di negara asal juga bisa menjadi pilihan.
“Bali aman untuk dikunjungi. Pemerintah dan masyarakat Bali telah melakukan langkah-langkah pencegahan yang disarankan, sehingga kami tegaskan Bali tetap menjadi destinasi wisata yang aman,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya pencegahan yang telah dilakukan, Dinas Pariwisata Bali dan BTB memastikan bahwa Bali tetap siap menyambut wisatawan dari seluruh dunia pada libur Nataru.
Editor : Wiwin Meliana