Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fakta Baru Kasus Pembunuhan Warga NTT di Bali: Tangisan Para Pelaku dan Motif yang Mengejutkan

I Putu Suyatra • Senin, 16 Desember 2024 | 14:13 WIB

Tersangka Fiktor Pikir Hati bersama lima temannya, yakni Agustinus Tamatalo, Petrus Pati Wondi, Kristoforus Kaka, Mateus Muda Rowa, dan Hermanus Rafu Bani, telah berstatus tersangka dan ditahan. (Foto
Tersangka Fiktor Pikir Hati bersama lima temannya, yakni Agustinus Tamatalo, Petrus Pati Wondi, Kristoforus Kaka, Mateus Muda Rowa, dan Hermanus Rafu Bani, telah berstatus tersangka dan ditahan. (Foto

BALIEXPRESS.ID – Fakta mengejutkan terungkap dalam kasus pembunuhan berencana yang menewaskan Raymundus Loghe Rangga (33), warga asal NTT di Bali.

Para pelaku, termasuk Fiktorius Pikir Hati alias Fiktor sebagai otak utama, dikabarkan menangis histeris saat ditahan di Polsek Denpasar Barat.

Tak hanya itu, mereka saling menyalahkan satu sama lain, memicu konflik internal di antara para tersangka.

Tangisan dan Konflik Antar Pelaku

Fiktor bersama lima rekannya—Agustinus Tamatalo, Petrus Pati Wondi, Kristoforus Kaka, Mateus Muda Rowa, dan Hermanus Rafu Bani—yang kini menjadi tersangka, dilaporkan saling marah dan menyalahkan Fiktor sebagai pemicu utama tragedi ini.

"Lima tersangka lainnya merasa ditipu oleh Fiktor, yang awalnya menyebarkan informasi palsu bahwa istrinya diculik," ungkap seorang sumber petugas, Minggu (15/12/2024).

Fiktor sendiri tetap bersikeras bahwa dia tidak bersalah, meski keterangan dari lima rekannya menyatakan bahwa Fiktor menghubungi mereka dan mengklaim istrinya telah diculik oleh seseorang yang tidak dikenal.

Namun, dalam pemeriksaan, terungkap bahwa istri Fiktor sebenarnya berada di salah satu kos di Denpasar, bukan diculik seperti yang dikatakannya.

Informasi hoaks ini memancing emosi teman-temannya yang kemudian bersedia membantu mencari istri Fiktor.

Perjalanan Menuju Tragedi

Berawal dari koordinasi di bedeng tempat mereka tinggal di Kerobokan, Bali, sembilan pria, termasuk lima tersangka dan empat lainnya yang kini masih buron (DPO), berkumpul untuk mencari lokasi yang disebutkan oleh Fiktor.

Mereka bertemu di Denpasar, di mana Fiktor mengambil alih sebagai pemimpin.

Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), tanpa basa-basi, mereka menyerang korban secara brutal.

Raymundus Loghe Rangga menjadi target utama dan mengalami luka tusuk fatal di dada kanan yang menembus paru-paru, menyebabkan kematiannya di RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar.

Dominikus Japa Rohi (26), korban lain yang mencoba melerai, juga mengalami luka serius di bagian paha, dada, leher, dan perut, dan kini masih dalam perawatan medis.

Motif Mengejutkan: Hanya Masalah Sepele

Menurut sumber petugas, motif sebenarnya hanyalah masalah rumah tangga yang sepele.

Konflik bermula dari hubungan keluarga, di mana istri pelaku dan istri korban adalah kakak-beradik kandung.

"Korban sebenarnya berusaha menyelesaikan masalah secara kekeluargaan saat pelaku datang ke TKP. Namun, cekcok yang memanas berujung pada aksi pengeroyokan dan penusukan," ungkapnya.

Penyesalan yang Terlambat

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, kelima pelaku dikabarkan menangis histeris di ruang tahanan.

"Penyesalan mereka sudah tidak ada gunanya lagi. Mereka merasa tertipu oleh Fiktor dan kini hanya bisa menangis," tambah sumber itu.

Jerat Hukum yang Berat

Para pelaku kini dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 355 KUHP tentang Penganiayaan Berat, dan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan.

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Denpasar, AKP I Ketut Sukadi, menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

"Kami akan sampaikan informasi lebih lanjut setelah pengembangan selesai," ujarnya singkat.

Tragedi yang Mengguncang

Kematian Raymundus Loghe Rangga bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi peringatan serius tentang dampak konflik yang dibiarkan berlarut-larut.

Sementara itu, Dominikus Japa Rohi yang menjadi saksi sekaligus korban masih berjuang melawan luka-luka seriusnya di rumah sakit.

Kasus ini menjadi sorotan publik, mengungkap bagaimana emosi yang tidak terkendali, ditambah informasi palsu, dapat berujung pada tragedi yang tidak seharusnya terjadi. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pembunuhan #keluarga #ntt