Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri dan Tradisi Unik di Pura Puseh Blahbatuh: Tempat Suci Hindu Bali yang Menyimpan Jejak Kebo Iwa

I Putu Suyatra • Jumat, 20 Desember 2024 | 23:38 WIB
Pura Puseh Desa Adat Blahbatuh di Gianyar, Bali
Pura Puseh Desa Adat Blahbatuh di Gianyar, Bali

BALIEXPRESS.ID - Pura Kahyangan Tiga adalah bagian tak terpisahkan dari setiap desa adat di Bali, yang terdiri atas Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem.

Namun, masing-masing pura di setiap desa memiliki keunikan tersendiri.

Salah satunya adalah Pura Puseh Desa Adat Blahbatuh di Gianyar yang menyimpan palinggih Ratu Gede Penghulung, lebih dikenal dengan sebutan palinggih Kebo Iwa.

Terletak strategis di jalan utama Blahbatuh, Pura Puseh ini mudah dijangkau, hanya sekitar 30 menit dari Kota Denpasar.

Dari simpang empat depan Pasar Blahbatuh, pura ini berjarak sekitar 300 meter.

Namun, keistimewaan pura ini tidak hanya terletak pada lokasinya yang mudah diakses, tetapi juga pada nilai spiritual dan sejarah yang mendalam.

Pelindung Desa dan Penolak Bala

Menurut Jero Mangku Pura, Jero Mangku Ketut Kantun, palinggih Ratu Gede Penghulung dianggap sebagai pelindung Desa Blahbatuh, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual).

Masyarakat setempat percaya bahwa palinggih ini menjadi benteng penolak bala dan penjaga harmoni desa.

“Jika ada hal-hal buruk yang mengancam, baik terlihat maupun tidak, beliau diyakini sebagai pelindung wilayah Blahbatuh,” ungkap Mangku Ketut Kantun.

Selain itu, banyak pemedek (umat) datang untuk memohon tuntunan dan keselamatan di palinggih ini, termasuk saat musim politik.

Beberapa calon legislatif bahkan sering menghaturkan sesangi dan banten di sana sebagai bentuk permohonan restu.

Tradisi Ngelangsuin dan Piodalan Pura Puseh

Keunikan lain dari Pura Puseh Blahbatuh terletak pada tradisi ngelangsuin, sebuah prosesi penyucian dan penghiasan khusus palinggih Kebo Iwa sebelum piodalan.

Prosesi ini melibatkan tirta suci dan wastra (kain) khusus yang digunakan untuk menghias palinggih.

Piodalan di Pura Puseh jatuh setiap Wraspati Wuku Pahang, yang berlangsung setiap enam bulan sekali.

Acara ini biasanya berlangsung selama empat hari, dengan upacara ngelangsuin dimulai beberapa hari sebelumnya.

Pada hari puncak, palinggih Kebo Iwa dihias secara khusus, termasuk dengan mahkota yang dilinggihkan di atasnya.

Jejak Sejarah Kebo Iwa

Keberadaan palinggih Kebo Iwa di Pura Puseh Blahbatuh tak lepas dari kisah tokoh legendaris tersebut. Menurut sejarah, Kebo Iwa adalah patih sakti yang disegani Gajah Mada.

Namun, pada tahun 1263 Masehi, Gajah Mada bersama Patih Wilwatikta melancarkan tipu daya untuk menyingkirkan Kebo Iwa.

Dikisahkan, setelah melewati berbagai wilayah Bali, termasuk Gilimanuk, Celukan Bawang, hingga Samprangan, Gajah Mada tiba di Blahbatuh.

Di sini, Kebo Iwa diminta untuk menikah dengan seorang putri dari Jawa.

Sebelum berangkat, Kebo Iwa menghaturkan sembah bhakti di Pura Gaduh dan melakukan yoga samadhi di Pura Luhur Uluwatu.

Kini, palinggih beliau berada di Pura Puseh Blahbatuh, tepatnya di sebelah Pura Gaduh.

Keunikan Pura Puseh Blahbatuh

Selain palinggih Kebo Iwa, Pura Puseh ini memiliki banyak palinggih lain yang memperkaya nilai spiritualnya.

Pura ini juga diempon oleh delapan banjar di Desa Blahbatuh, menjadikannya pusat spiritual dan budaya bagi masyarakat setempat.

Bagi para pencari spiritualitas dan sejarah, Pura Puseh Blahbatuh menawarkan pengalaman yang penuh makna.

Keunikan tradisi, kisah legendaris Kebo Iwa, hingga aura sakral pura ini menjadikannya destinasi yang tak boleh dilewatkan.

Apakah Anda penasaran untuk melihat langsung keistimewaan Pura Puseh Blahbatuh?

Kunjungi dan rasakan sendiri energi magis yang terpancar dari tempat suci Hindu Bali ini. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #blahbatuh #gajah mada #gianyar #Kebo Iwa #hindu #sejarah #pura puseh