Tradisi Mepasaran di Buleleng: Ritual Hindu Bali Unik di Bawah Pohon Asam untuk Masa Depan Anak
I Putu Mardika• Sabtu, 21 Desember 2024 | 15:45 WIB
Tradisi Mepasaran di Buleleng, Bali
BALIEXPRESS.ID – Dusun Galiran, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, menyimpan tradisi Hindu Bali unik dan sarat makna yang terus dilestarikan hingga kini.
Tradisi bernama Mepasaran ini dilakukan saat upacara tiga bulanan anak, tepat di bawah pohon Asam (Asem Wayah) yang telah berusia ratusan tahun.
Ritual ini dipercaya membawa doa kesejahteraan, kesehatan, hingga kesuksesan bagi bayi yang diupacarai.
Prosesi Sakral di Bawah Pohon Asam
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini diawali dengan persembahyangan di depan Pura Desa.
Pohon Asam yang menjadi pusat ritual memiliki aura magis tersendiri dan diyakini mampu mengabulkan harapan.
Setelah bersembahyang, inti dari tradisi Mepasaran pun dimulai.
Seperti namanya, Mepasaran menyerupai suasana pasar tradisional. Yang menarik, sang bayi yang baru saja diupacarai menjadi “penjual”, sementara warga sekitar berperan sebagai “pembeli”.
Dalam suasana penuh canda dan gelak tawa, bayi yang ditemani orang tuanya melayani pembeli layaknya pedagang profesional.
Ritual ini ditutup dengan prosesi mengelilingi pohon Asam sebanyak tiga kali, sebagai simbol harapan akan kesejahteraan, kesuksesan, dan ketaatan anak kepada orang tua di masa depan.
Makna di Balik Mepasaran
Menurut Jro Mangku Nara, tradisi ini bukanlah ritual wajib, melainkan dilakukan atas dasar kepercayaan dan harapan orang tua.
"Tradisi ini bertujuan memohon kerahayuan, kesehatan jasmani dan rohani, serta kesuksesan bagi sang anak. Tidak ada kewajiban, sehingga pelaksanaannya tergantung niat orang tua," jelasnya.
Sebagian warga juga menjalankan tradisi ini untuk membayar nazar, sebagai bentuk syukur kepada alam dan Tuhan atas keberhasilan mereka.
Namun, sayangnya, seiring waktu, tradisi ini semakin jarang dilakukan.
Banyak warga yang memilih untuk tidak melaksanakannya karena bersifat opsional dan tidak berdampak negatif jika ditinggalkan.
Melestarikan Tradisi di Tengah Modernisasi
Meski mulai jarang, ada warga yang masih percaya akan kekuatan tradisi Mepasaran.
Salah satunya adalah Putu Dedy Yastika, yang belum lama ini melaksanakan ritual tersebut untuk putra ketiganya, Komang Bramiswara Yastika.
Sebagai upaya melestarikan budaya, Dedy bahkan melibatkan Grup Bondres Rare Kual untuk memeriahkan prosesi tersebut. Ia berharap tradisi ini tetap hidup dan menjadi daya tarik wisata di masa depan.
"Pohon Asem Wayah Galiran ini adalah aset desa yang unik. Jika tradisi ini terus dipertahankan, saya yakin desa kami akan menjadi destinasi wisata budaya yang diperhitungkan," tegas Dedy.
Potensi Wisata Budaya di Buleleng
Tradisi Mepasaran di Dusun Galiran tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya.
Dengan mempertahankan tradisi ini, Dusun Galiran dan Desa Baktiseraga bisa menjadi magnet bagi wisatawan yang tertarik pada keunikan budaya lokal.
Apakah tradisi unik seperti Mepasaran ini akan tetap bertahan di tengah arus modernisasi? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Namun satu hal pasti, tradisi ini adalah warisan yang layak dijaga untuk masa depan generasi berikutnya. ***