Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Tinggal Diam! Pemkab Bangli Punya Solusi Atasi Serbuan Lalat di Kintamani, tapi Butuh Waktu dan Biaya Besar

I Made Mertawan • Senin, 23 Desember 2024 | 00:27 WIB
Lalat megerubuti sepeda motor di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Lalat megerubuti sepeda motor di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

BALIEXPRESS- Keberadaan lalat di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Pemkab Bangli telah mengidentifikasi penyebab utama munculnya lalat dalam jumlah besar.

Saat ini, upaya penanganan lalat di Kintamani masih dalam tahap kajian. Seperti apa?

Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap keberadaan lalat di Kintamani.

Ia menjelaskan bahwa serangan lalat ini muncul secara musiman. Namun, jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

“Tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Diar pada Minggu (22/12/2024).

Diar menyatakan bahwa lalat menyerbu wilayah Kintamani akibat penggunaan kotoran ayam untuk lahan pertanian.

Kotoran ayam ini tanpa diolah terlebih dahulu. Para petani langsung menebarkannya pada tanaman seperti jeruk, sayuran, dan tanaman lainnya, karena mereka meyakini penggunaan limbah kotoran ayam dapat meningkatkan hasil panen secara maksimal.   

Setelah memastikan penyebab utama munculnya lalat, Wakil Bupati asal Desa Belantih, Kintamani, ini menegaskan bahwa Pemkab Bangli tidak tinggal diam.

Pemerintah sedang mengkaji pembelian mesin pengolah limbah kotoran ayam menjadi pupuk kompos.

Pupuk inilah yang diharapkan dapat menggantikan penggunaan kotoran ayam oleh para petani selama ini.

Namun, Diar mengakui tidak sesederhana itu. Pengadaan mesin membutuhkan anggaran besar yang mencapai Rp20 miliar untuk kapasitas 30 ton per hari.

Anggaran ttu belum termasuk sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Selain itu, masih ada persoalan teknis, salah satunya terkait pengiriman kotoran ayam ke mesin pengolah, apakah dilakukan oleh petani atau ada solusi lain. “Ini masih banyak kaitannya,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Diar menyampaikan bahwa Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta akan melakukan presentasi di hadapan Gubernur Bali terpilih, I Wayan Koster.

Ia berharap persoalan lalat di Kintamani dapat mendapat perhatian dari Pemprov Bali, meskipun penyelesaiannya tidak bisa dilakukan dengan cepat.

“Butuh waktu dan biaya besar,” ungkap Diar.

Selain itu, dinas terkait, lanjut Diar, sudah turun ke masyarakat untuk mensosialisasikan pentingnya penggunaan kotoran ayam yang telah melalui proses fermentasi.

Namun, banyak petani yang masih mengabaikan imbauan ini karena proses fermentasi membutuhkan waktu lebih lama.

I Ketut Putranata, salah satu pelaku pariwisata di Kintamani mendorong Pemkab Bangli melakukan upaya penanganan lalat.

Ia mendorong demikian karena serbuan lalat ini berdampak buruk pada sektor pariwisata.

Keberadaan lalat mengganggu kenyamanan wisatawan. Rombongan wisatawan sempat membatalkan makan siang di restorannya akibat banyaknya lalat.

Putranata juga mengatakan keberadaan lalat membuat wisatawan membatalkan rencana menginap di hotelnya.

Ia pun menegaskan bahwa masalah lalat telah menjadi isu serius bagi para pelaku pariwisata yang tergabung dalam PHRI Bangli.

Penanganan serbuan lalat tidak bisa dilakukan secara individu, terutama karena sumbernya berasal dari pola pemupukan yang dilakukan para petani.

Oleh karena itu, pemerintah perlu berperan sebagai motor penggerak dalam mencari solusi.  

“Penanganannya harus dilakukan secara kolektif,” sarannya. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #Kintamani #bangli #lalat #Serbuan lalat