Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

AMOR ING ACINTYA! Tangis Pecah di Banjar Taman: Kisah Haru Pemulangan Jenazah Ni Putu Kariani dari Turki ke Bali

I Gde Riantory Warmadewa • Senin, 30 Desember 2024 | 14:34 WIB
RUMAH DUKA : Keluarga dan kerabat almarhum Ni Putu Kariani saat jenasah tiba di rumah duka
RUMAH DUKA : Keluarga dan kerabat almarhum Ni Putu Kariani saat jenasah tiba di rumah duka

BALIEXPRESS.ID - Banjar Taman, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, diselimuti suasana duka mendalam pada Minggu (29/12/2024).

Peti jenazah Ni Putu Kariani (44), pekerja migran Indonesia (PM) yang meninggal dunia di Turki akibat meningitis, tiba di rumah duka untuk terakhir kalinya.

Tangis suaminya, I Ngurah Nata (48), pecah saat peti dibuka. Ia langsung mengenali istrinya hanya dari tanda di kakinya.

“Saya langsung tahu itu istri saya begitu melihat kakinya. Saya tak kuasa menahan tangis karena itu saya tidak melihat wajahnya,” ungkap Nata, dengan suara terisak.

Perjuangan Kariani Melawan Penyakit di Negeri Orang

Ni Putu Kariani, yang bekerja di Turki sebagai pekerja migran, sebelumnya berjuang keras melawan penyakitnya.

Ia sempat menjalani berbagai pengobatan intensif, termasuk tiga kali kemoterapi dan dua kali operasi otak.

Keluarga menyebutkan bahwa almarhumah tetap berusaha kuat untuk segera pulih dan kembali ke Tanah Air.

Namun, kondisi kesehatannya terus menurun sejak Agustus 2024.

Bahkan, upaya keluarganya untuk berbicara melalui panggilan video sering terhalang oleh keadaannya yang semakin melemah.

Perjuangan Memulangkan Jenazah

Proses pemulangan jenazah Kariani ke Indonesia bukanlah hal yang mudah. Hambatan prosedur dan biaya menjadi tantangan besar.

Berkat bantuan sesama pekerja migran di Turki yang menggalang donasi hingga mencapai USD 4.500, jenazah Kariani akhirnya dapat dipulangkan ke kampung halamannya.

Rumah sakit di Turki sebelumnya memberikan ultimatum, bahwa jenazah harus segera dipulangkan atau dimakamkan di sana.

“Saya sangat bersyukur jenazah istri saya bisa kembali ke rumah,” ujar Nata penuh haru.

Perusahaan tempat almarhumah bekerja juga menghadapi kendala finansial setelah menanggung biaya pengobatan besar selama masa perawatan Kariani.

Duka Keluarga dan Persiapan Upacara Pengabenan

Jenazah Kariani akhirnya tiba di Indonesia 15 hari setelah ia meninggal dunia di Turki pada Sabtu (14/12/2024).

Kini, keluarga mempersiapkan upacara pengabenan sebagai penghormatan terakhir untuk almarhumah.

Kisah Ni Putu Kariani menjadi pengingat tentang beratnya perjuangan pekerja migran di negeri orang, baik untuk keluarga yang ditinggalkan maupun bagi mereka yang menghadapi cobaan di perantauan.

Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. ***

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #pmi #jenazah #jembrana