BALIEXPRESS.ID - Sampah kiriman yang menepi di sepanjang pantai pesisir barat Kabupaten Badung menjadi masalah setiap tahunnya.
Bahkan sampah kiriman ini pun menyebabkan penilaian buruk terhadap Bali sebagai tujuan wisatawan mancanegara.
Meski demikian, permasalahan sampah ini sejatinya telah dilakukan pembersihan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung melalui penanggung jawabnya Kabid Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3, Anak Agung Gede Agung Dalem.
Pria yang akrab disapa Agung Dalem ini pun telah berkecimpung langsung dalam penanganan sampah kiriman sejak tahun 2019.
Ia pun mengaku banyak suka duka dalam penanganan sampah.
“Sejatinya sampah kiriman ini setiap tahun ada, dari saya menjabat di DLHK sampah terbanyak ada di tahun 2021,” ujar Gung Dalem.
Baca Juga: Pahdi Specialty Coffee: Cara Menikmati Kopi Rasa Buah, Ditemani View Gunung Batur yang Merona
Pria kelahiran 1968, ini pun menyebutkan, sampah kiriman pada tahun 2021 yang ditangani mencapai 6.000 ton.
Kondisi sampah kiriman ini tidak menentu, namun di tahun 2024 menuju 2025, ia memprediksi akan ada peningkatan jumlah sampah.
Sebab pada Desember 2024 sampah yang ditangani sepanjang pantai mencapai 1.300 ton.
Baca Juga: Lunamoon: Restoran Thai Pertama di Kintamani yang Wajib Dikunjungi
“Sampah di 2020 hampir tidak ada, 2021 tinggi, 2022 sedikit, kemudian di tahun 2024 kembali tinggi,” ungkap ayah dari satu anak ini.
Pihaknya pun menyebutkan, sampah kiriman sebenarnya tidak hanya muncul di Kabupaten Badung.
Namun khusus di Gumi Keris, karena pantai menjadi daya tarik wisatawan, sehingga permasalahan sampah kiriman ini harus ditangani serius.
Sehingga permasalahan ini adalah masalah nasional dan internasional.
“Sampah kiriman ini sebenarnya berasal dari luar Bali. Dia akan mengalir terus ke Madagaskar,” paparnya.
“Sampah ini datang dari timur Sumatra, kemudian Lampung, terus ke Jakarta dan terus ke timur menyusuri Laut Jawa, karena banyak sungai yang nermuasa ke sana. Sampah pun terbawa ke timur menuju Lombok kemudian ke arah selatan. Disapu arus laut menuju daerah barat, nyangkut lah di Kuta,” jelas pria 57 tahun tersebut.
Atas adanya permasalahan sampah kirimian tersebut, Gung Dalem berharap ada bantuan dari pemerintah pusat.
Terlebih ia menilao Bali juga telah menyumbangkan pendapatan melalui Visa On Arrival (VOA).
“Kami dorong ini di pusat, pantai di Badung ini salah satu mesin pencari uang. Masa sih mesinnya tidak diservis,” singgung mantan Kabid SDA Dinas PUPR Badung tersebut. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga