BALIEXPRESS.ID – Nasib transportasi umum andalan Bali, Trans Metro Dewata (TMD), resmi berakhir sementara pada Rabu (1/1).
Pengumuman penghentian operasional bus yang akrab disebut "Bus Tayo" itu disampaikan manajemen TMD melalui media sosial.
Keputusan ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Baca Juga: Pj. Gubernur Sebut Malam Tahun Baru di Bali Kondusif, Kemacetan di Canggu Dapat Diatasi
Berdasarkan pantauan di Sentral Parkir Kuta, bus-bus yang didominasi warna merah-putih ini terparkir rapi.
Yang mana biasanya, bus-bus ini pada siang hari masih lalu-lalang menjemput penumpang.
Menurut Manager Operasional PT Satria Trans Jaya, Ida Bagus Eka Budi membenarkan TMD telah resmi berhenti beroperasi.
Namun, penghentian operasional ini dikatakannya hanya sementara sampai ada keputusan resmi dari pusat.
“Sementara, sampai ada keputusan pemerintah,” katanya, Rabu (1/1).
Disinggung terkait nasib para sopir dan armada, Budi menyebut, masih standby walau tidak beroperasi.
Baca Juga: Gung Dalem, Sosok ‘Pembersih’ Sampah Kiriman di Kabupaten Badung Sejak 2019
Budi membeberkan, biaya operasional bus dengan sistem transportasi bus raya terpadu menghabiskan sekitar Rp 75 miliar per tahun. “Sekitar (75 miliar),” ungkapnya.
Sebelumnya, dikatakan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali, IGW Samsi Gunarta, TMD diberhentikan karena pemerintah pusat tidak lagi menyediakan pendanaan, sementara Pemprov Bali dan pemerintah kabupaten/kota diminta untuk mengelola.
Namun, Pemprov Bali menyatakan tidak memiliki kapasitas untuk mengambil alih pengelolaan tersebut.
Samsi dalam rilisnya membeberkan, Pemprov Bali sedang menegosiasi dengan Kementerian Perhubungan agar tetap mengalokasikan pendanaan untuk layanan Trans Metro Dewata, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota.
Selama ini, penganggaran layanan berasal dari APBN, dan penghentian dana sepenuhnya merupakan kebijakan Kementerian Perhubungan RI.(***)
Editor : Rika Riyanti