Salah satu nama yang kini menjadi sorotan adalah Budi Arsa, penyanyi asal Jembrana, Bali, yang telah berhasil mengukuhkan dirinya sebagai salah satu musisi terbaik di Pulau Dewata.
Dilahirkan dengan nama lengkap I Komang Budi Arsajana pada 8 Desember 1994 di Desa Pergung, perjalanan musik Budi Arsa dimulai sejak usia muda.
Menghabiskan masa kecilnya di Jembrana, Budi Arsa menunjukkan bakat menyanyi sejak duduk di bangku sekolah.
Ia sering mengikuti lomba menyanyi dan megeguritan, hingga dipercaya mewakili Kabupaten Jembrana dalam Pesta Kesenian Bali di Art Center.
Nama Budi Arsa semakin dikenal pada tahun 2015, ketika ia merilis single debutnya, "Meru Tanpa Lawang," melalui album kompilasi Tutur Tresna yang diproduksi oleh Dharma Production.
Sejak itu, Budi Arsa terus meniti karier dengan kerja keras dan dedikasi. Tahun 2019/2020 menjadi tonggak penting dalam perjalanan musiknya, ketika ia mulai aktif mempublikasikan karya melalui kanal YouTube Budi Arsajana.
Baca Juga: Bupati Giri Prasta Resmikan Kantor Perbekel Sibanggede, Berharap Perkuat Kinerja Pemerintahan Desa
Di kanal tersebut, ia membagikan berbagai konten musik, termasuk cover lagu-lagu lawas, yang kemudian membuka jalan bagi karya orisinilnya.
Kini, Budi Arsa telah menghasilkan lebih dari 30 single, baik solo maupun duet. Beberapa lagu terkenalnya antara lain "Nolih Langit," "Sing Gengsi," "Bukti Satya," dan "Menyame."
Dengan kombinasi lagu bernuansa melankolis dan energik, ia berhasil menciptakan identitas unik di dunia musik pop Bali.
Prestasi Budi Arsa pun tak luput dari perhatian. Pada Anugerah Musik Bali 2022, ia dinominasikan sebagai "Penyanyi Solo Pria Berbahasa Bali Terbaik" dan berhasil memenangkan kategori "Karya Produksi Berbahasa Bali Terfavorit" untuk lagunya "Nolih Langit."
Kemenangan ini semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu musisi pria terkemuka di Bali.
Dalam wawancara, Budi Arsa mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut.
"Sebagai musisi asli Jembrana, saya merasa bangga karya-karya saya bisa diterima oleh penggemar musik pop Bali," ujar pria yang dikenal ramah meski mengaku introvert ini.
Budi Arsa tak hanya dikenal karena musiknya, tetapi juga karena konsistensinya menjaga akar budaya Bali dalam setiap karya. Ia memadukan unsur tradisional dan modern, sehingga lagunya dapat diterima lintas generasi.
Baca Juga: Peringati HAB ke-79, Kemenag Gianyar Upacara dan Tabur Bunga di TMP Kertya Mandala
Hal ini terlihat pada duetnya seperti "Perintis Boye Pewaris" bersama Agus Darma dan "Jembrana" dengan Gede Funk, serta lagu 'Bes Goloh' duet dengan Pompi.
Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam perjalanan kariernya. Sebagai anak dari pasangan I Made Widana dan Ni Ketut Wentri (alm), serta saudara dari Ni Luh Ayu Suintari, Budi Arsa mendapatkan motivasi besar untuk terus berkarya.
Dalam hal pendidikan, Budi Arsa menempuh sekolah dasar di SD N 2 Pergung, melanjutkan ke SMP Negeri 2 Mendoyo, dan menghabiskan masa SMA-nya di SMA Negeri 1 Mendoyo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Wearnes Education Center di Denpasar, yang memberinya fondasi kuat dalam dunia teknologi.
Selain aktif bermusik, Budi Arsa juga menggunakan media sosial untuk mendekatkan diri kepada penggemarnya.
Ia memiliki akun resmi di berbagai platform seperti Facebook (Budi Arsa), Instagram (@budi.arsa), TikTok (@budi.arsa), dan YouTube (Budi Arsajana).
Budi Arsa juga menginspirasi para musisi muda di Bali melalui pesan-pesan dalam lirik lagunya. Karya seperti "Ngancan Bagia Ngancan Sakit" dan "Tresna Rerama" mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam.
Dengan segala pencapaiannya, Budi Arsa menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, dedikasi, dan rasa cinta terhadap budaya dapat membawa seseorang menuju kesuksesan. Ia tidak hanya menjadi musisi, tetapi juga simbol kebanggaan bagi masyarakat Bali, khususnya Jembrana.
Ke depan, Budi Arsa berharap dapat terus berkarya dan memperluas jangkauan musik Bali hingga ke panggung internasional.
"Musik adalah bahasa universal, dan saya ingin memperkenalkan keindahan budaya Bali melalui lagu," tutupnya dengan optimisme. (dik)
Editor : I Putu Mardika