BALIEXPRESS.ID – Ridho Adi Yudistira, seorang pemuda berusia 22 tahun, terjebak dalam peristiwa memilukan saat mendaki Gunung Agung.
Selama tiga hari tersesat di gunung, Ridho mengalami luka parah setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 100 meter.
Namun yang mengharukan, di tengah kondisi kritisnya, Ridho sempat meminta temannya untuk meninggalkannya demi mencari bantuan.
Ridho yang kini sedang menjalani pemulihan di Jember bersama keluarganya, mengungkapkan bahwa dirinya hanya memulai pendakian Gunung Agung dengan persiapan minim.
“Awalnya, saya dan teman-teman rencananya akan tektok, jadi saya hanya bawa beberapa snack, air, dan roti,” kenang Ridho, yang mengaku tidak membawa perbekalan lengkap karena hanya berniat melakukan pendakian dalam waktu sehari.
Namun, rencana mereka berubah tragis. Pada 24 Desember 2024, Ridho bersama lima teman lainnya mendaki Gunung Agung.
Setelah terpisah dari rombongan pada 25 Desember, mereka terus melanjutkan perjalanan, meskipun cuaca semakin buruk.
“Ketika cuaca makin gelap dan kabut tebal, kami memutuskan untuk bermalam dan mendirikan tenda darurat dengan terpal,” ujar Ridho.
Pada 26 Desember, Ridho dan temannya Dicky menyusuri aliran sungai, berharap bisa menemukan jalan keluar.
Namun, setelah berhari-hari tersesat tanpa makan dan hanya mengandalkan air sungai, mereka semakin jauh dari jalur yang benar.
Puncaknya, pada 27 Desember, saat menyusuri tebing sungai, Ridho terpeleset dan jatuh dari ketinggian 100 meter.
“Rasanya sakit banget, saya tahu tubuh saya terluka parah, jadi saya minta Dicky untuk pergi mencari bantuan,” kenang Ridho dengan suara lemah.
Dalam kondisi terluka dan lemah, Ridho menunggu dengan harapan bantuan segera datang.
Setelah dua jam menunggu, tim SAR akhirnya menemukan Ridho dan berhasil mengevakuasinya dengan tandu darurat.
"Saya sangat bersyukur bisa ditemukan dan diselamatkan," ungkap Ridho.
Ia kemudian dibawa ke Puskesmas Rendang dan dirujuk ke RSUD Klungkung untuk mendapatkan perawatan medis.
Dokter menyatakan bahwa Ridho mengalami dislokasi pada pangkal paha, tiga tulang rusuk retak, serta tulang pipi dan tangan yang cedera.
Karena luka yang cukup parah, Ridho dipindahkan ke rumah kerabatnya di Jember dengan biaya sewa ambulans Rp 2,6 juta.
Perjalanan yang memakan waktu 10 jam tersebut menjadi bagian dari perjuangannya untuk kembali pulih.
Meskipun sempat terpuruk akibat kecelakaan tersebut, Ridho mengungkapkan bahwa ia tidak kapok mendaki gunung.
"Saya nggak kapok, tapi pastinya akan lebih mempersiapkan diri jika mendaki lagi," ujarnya dengan penuh tekad.
Saat ini, Ridho fokus pada pemulihan dan menjalani masa cuti dari pekerjaannya di Indomaret Ngurah Rai, Tabanan.
Pengalaman Ridho mengajarkan kita semua pentingnya persiapan yang matang sebelum melakukan aktivitas luar ruangan, terutama pendakian gunung.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga dan pengingat bagi kita semua untuk selalu berhati-hati dalam menghadapi alam yang penuh tantangan. (*)
Editor : Nyoman Suarna