BALIEXPRESS.ID - I Ketut Alon (Alm) merupakan seorang seniman legendaris asal Banjar Tarukan, Desa Mas, Ubud Gianyar. Ia adalah maestro patung kayu sekaligus pendiri Galeri Alon (Artshop) pada 1968.
Karya-karyanya bahkan kerap tampil di pameran internasional. Namun, sebelum menjadi seorang seniman besar, Ketut Alon ternyata menjalani masa kecil yang sulit.
Kisah hidupnya dibeberkan oleh sang anak Kadek Ariasa. Disebutkan, sang ayah merupakan seorang anak yatim piatu yang hanya diasuh oleh kakak perempuannya.
"Ayah saya adalah yatim piatu yang tidak punya ibu dan bapak sejak kecil, tidak punya rumah, nginap sana, nginap sini, dirawat dan dibesarkan oleh seorang kakak yang tidak punya pekerjaan," tuturnya, Rabu 8 Januari 2025.
Suami dari dua istri bernama Ni Wayan Reni dan Ni Nyoman Renin itu bahkan tidak merasakan yang namanya pendidikan sekolah karena lahir dari kehidupan yang berat.
Meski dengan kondisinya yang serba kekurangan tersebut, Ketut Alon tak patah semangat. Ayah dari 12 anak tersebut mengisi hari-harinya dengan belajar seni patung.
Dirinya memperhatikan bagaimana orang-orang dewasa di desanya membuat sebuah karya. Salah satu seniman yang menginspirasinya adalah Ida Bagus Njana.
"Saya bertanya-tanya kepada orang-orang tua di Desa bagaimana ayah saya belajar, katanya hanya dengan melihat orang membuat patung, kemudian dicoba sendiri dan ditekuni, akhirnya bisa dilakoni," ujar pria yang juga Komisioner KPAD Provinsi Bali tersebut.
Maka, jiwanya sebagai seniman patung pun terbentuk secara alami. Kemudian bisa memasarkan hasil karyanya sendiri. Ia ditemani istri dan anak-anak berjualan “ngancung" ke pasar-pasar seni, sampai ke area pelabuhan wisata Benoa.
Tak hanya soal bisnis, pria itu tetap berbakti kepada desa dan banjar dengan ngayah mengukir maupun membuat hiasan yang ada di pura demi kepentingan umum.
Seiring dengan usahanya yang semakin besar, disertai mulai adanya wisatawan yang berkunjung ke Desa Mas, dia lantas mendirikan I Ketut ALON Balinese Art Shop & Wood Carver (sebelum dirubah menjadi Galeri Alon) pada 1968.
Setelah itu, namanya mulai dikenal di zaman adanya seniman Ida Bagus Tilem tersebut. Wisatawan berdatangan untuk mengoleksi hasil pahatan dari tangan emasnya tersebut.
Patung yang dihasilkan bertema pewayangan (Mahabarata dan Ramayana) dan mengambil tema kehidupan sehari-hari yang bersifat humanis.
Sampai-sampai, Alon diundang ke Jepang untuk terlibat dalam pameran internasional sebanyak tiga kali, yakni pada 1981, 1983 dan 1985.
Karya terkenal yang dihasilkan seperti patung berjudul "Shinta dan Jatayu" ada juga patung "Sutasoma".
Alhasil, wisatawan mancanegara semakin meminati karya-karya. Sehingga, galeri seninya menjadi terus berkembang dan diperluas.
Pada 1991, nama artshopnya berubah menjadi Galeri Alon.
Pengelolaan usaha tersebut turut dibantu oleh Ariasa yang sudah lulus sarjana, agar mampu mengikuti perkembangan persaingan pasar dan jaman.
Namun, Alon harus berpulang pada usia 61 tahun, karena insiden tragis yang menimpanya.
Saat melukat ke Pantai Ketewel, pria itu meninggal akibat terseret arus.
Walaupun pria itu sudah wafat, karya seninya terus hidup untuk menghiasi seni budaya sampai saat ini dan menjadi bagian dari sejarah di Desa Mas.
Galeri Alon kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh Kadek Ariasa.
Kegiatan sosial kemanusiaan di bidang Seni Budaya diadakan di galeri tersebut.
Pihaknya merintis Sanggar Seni Tabuh dan Tari skala kecil sejak tahun 1995, serta membangun Yayasan I Ketut ALON.
Yayasan itu kemudian menaungi Taman Sarin Rare yang dibentuk Ariasa.
Yayasan tersebut mampu memberikan pendidikan untuk anak-anak kurang mampu ataupun berkebutuhan khusus. (*)
Editor : I Gede Paramasutha