BALIEXPRESS.ID-Ni Made Arini merupakan seorang guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa di Bali.
Sosoknya mulai dikenal khalayak, lantaran video-video inspiratif yang kerap ia bagikan di akun media sosialnya.
Baca Juga: Satriya Bakal Maksimalkan Basis Data hingga Genjot Penanganan Sampah di 100 Hari Kerja
Melalui akun Facebook Dvn Arini, perempuan kelahiran tahun 1990 itu kerap membagikan momen saat di kelas mengajar siswa-siswinya yang berkebutuhan khusus.
Kepada Bali Express, perempuan yang akrab disapa Bu Guru Arini mengaku bahwa tertarik mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa lantaran jurusan ini langka peminatnya.
Selain itu, dukungan dari orang tuanya juga menjadi alasan Bu Guru Arini mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa.
Baca Juga: Aksi Pencarian 'Koin Jagat' di Bali; Pemuda Nekat Cari di Tengah Jalan Hingga Perusakan Taman
Bu Guru Arini yang saat ini mengajar di SLB Negeri 1 Gianyar, Bali mengaku banyak hal yang ia dapatkan menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Ia mengaku banyak belajar hal-hal yang orang lain tidak pelajari.
“Sukanya banyak sekali. Saya merasa saya sangat dibutuhkan oleh anak-anak didik saya. Saya bisa belajar banyak hal yg orang lain tidak pelajari,”jelasnya.
Bahkan tak hanya untuk siswanya, Bu Guru Arini mengaku bahwa ilmu yang dimiliki juga dimanfaatkan oleh keluarga siswa.
“Ilmu yg saya punya tidak hanya untuk anak2 didik saya tapi keluarga mereka juga ikut belajar. Orang tua dan keluarga mereka sangat baik terhadap saya,” jelasnya.
Menjadi seorang guru di SLB tidaklah sama dengan guru-guru di sekolah konvensional.
Baca Juga: Kesal Mobil Parkir Depan Pintu Balai Banjar, Pemuda Bali Tempeli Tulisan ‘Bes Pongah’
Itulah sebab maka selama mengajar, Bu Guru Arini banyak mendapat tantangan.
Salah satunya saat menghadapi peserta didiknya yang tantrum bersamaan.
Saat itu terjadi pihaknya harus pintar menghandle kelas.
Tak hanya itu, ia juga harus mengajar dengan multitalenta.
Mata melihat, mulut bicaca, tangan mengisyartkan dan wajah mengekspresikan.
“Jadi double bahkan triplelah yang harus saya lakukan sekali ngajar. Capek tapi sudah biasa. Harus banyak punya media ajar agar mereka tidak bosan. Dan harus pintar-pintar mencari metode pembelajaran baru agar anak2 bisa semangat terus belajar,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana