Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berawal Dari Hobi Balap Liar, Jik Umbara Wakili Indonesia Ikuti Modifikasi di Thailand: Kini Aktif Sebagai Juri

Putu Resa Kertawedangga • Kamis, 16 Januari 2025 | 02:00 WIB

I Dewa Gede Agus Umbara yang kini sukses menjadi juri modifikasi berawal dari balap liar.
I Dewa Gede Agus Umbara yang kini sukses menjadi juri modifikasi berawal dari balap liar.

BALIEXPRESS.ID - Dunia modifikasi umumnya sangat digemari oleh generasi muda.

Banyak pecinta modifikasi masih berusia belia, bahkan ada modifikator lokal yang hidup dari hobinya.

Namun sebelum menekuni modifikasi, ia dulunya adalah pecinta balap liar.

Baca Juga: Pertahankan Zero Case PMK, Pemprov Bali Dapat Jatah 17 Ribu Dosis Vaksin, Didistribusikan ke Kabupaten/Kota

Adalah I Dewa Gede Agus Umbara, yang kini aktif menjadi juri Ototrend.

Pria yang akrab disapa Jik Umbara ini pun setiap minggunya terus menilai motor-motor kontes modifikasi.

Pekerjaannya kini pun didapat dari hobinya sejak duduk di bangku sekolah.

Baca Juga: GEGER! Pria Tewas Gantung Diri di Jembatan, Tinggalkan Surat Wasiat untuk Keluarga: Motifnya Masih Misteri

Kepada Koran Bali Express Jawapos Grup, Jik Umbara mengaku hobi modifikasi ini muncul setelah ia menyukai balap liar.

Saat duduk di bangku SMP saat itu pada tahun 1994.

Namun karena orang tuanya seorang seorang polisi aktif saat itu, dirinya tidak diizinkan.

Baca Juga: Plafon Ruang Kelas Ambruk, Siswa TK Negeri Semarapura Tengah Was-was

Terlebih hobinya itu membahayakan bagi dirinya dan oengen dara lain.

Apalagi hobi ini sangat kontras dengan pekerjaan almarhum ayahnya.

“Kemudian saya ikut race resmi karena almarhum ajik saya anggota Polri. Kemudian saya beralih di tahun 1996 ke dunia modifikasi,” ujar Jik Umbara. 

Alhasil motor pertama yang dimodifikasi adalah Honda Grand, yang diubah menjadi ceper.

Kemudian ada juga Suzuki RGR yang dimodifikasi.

Hanya saja di tahun 1998 dirinya berhenti modifikasi karena krisis.

“Saya kembali modifikasi sekitar tahun 2000 dengan motor Shogun SP, alirannya road race. Motor ini saya ikutkan kontes, tapi tidak pernah menang,” ungkapnya.

Kemudian di tahun 2004, ia membeli motor matic pertamanya, yaitu Yamaha Mio.

Motor ini dibeli dari menjual motor modifikasi sebelumnya.

Saking cintanya dengan modifikasi, seminggu motor barunya datang langsung dibongkar.

“Belum sempet servis di dealer langsung saya crome kaki-kaki motor di Singaraja,” paparnya.

Setelah itu motor yang dimodifikasi sedemikian rupa, diikutkan kontes modifikasi.

Hanya saja ia mendapatkan juara III sekitar tahun 2006, namun dirinya tidak puas.

“Kalah, anggap saja saya kalah. Walaupun saya bawa piala pulang,” ungkapnya.

Dirinya pun kembali merubah gaya modifikasi motornya tersebut.

Hal ini dilakukan untuk meraih juara utama atau julukan The King.

Namun setelah dirubah sedemikian rupa, ia hanya meraih juara II.

“Saya mendapatkan juara III nasional waktu ada event Djarum Black Motidify tahun 2008,” ujar ayah dari tiga anak tersebut.

Tak terhenti disitu Jik Umbara juga memiliki karya modifikasi motor dengan konsep alien.

Motor yang dimodifikasi dengan bahan limbah-limbah rantai, besi, hingga pagar rumah ini pun sukses membawa dirinya ke kancah nasional.

Motor alien ini memenangkan kontes saat itu dengan juara I konsep.

Kemudian, suami dari Kepala Sekolah SMPN 7 Mengwi ini pun, mengikuti kontes motor di Malang dan final di Surabaya.

Motor yang ia bawa saat itu dengan konsep transformer.

Dari motor karyanya tersebut, Jik Umbara pun menjadi kontestan yang mewakili Indonesia di Thailand.

“Saya dikasi motor waktu itu dari Honda untuk ikut di Thailand melalui Bangkok Motor Show. Motor itu PCX dimodifikasi dengan konsep tema Peacock Tecno Limousin. Ini terinspirasi dari merak dengan motor lowrider dengan panjang 2,5 meter,” terang Pria asal Abiansemal Dauh Yeh Cani tersebut.

Pulang dari Bangkok, ia memutuskan untuk membuka benkel.

Kemudian di tahun 2012 ia mendapatkan panggilan menjadi dewan juri di Ototrend. 

Menjadi dewan juri ia banyak bertemu para modifikator muda.

Dirinya pun memberikan sejumlah masukan, ia meminta agar para modifikator terus mengembangkan idenya.

Meski harus kalah diawal, Jik Umbara tak segan memberikan masukan apa kekurangan yang menyebabkan peserta kalah dalam perlombaan.

“Ini saya lakukan untuk tetap menjaga semangat generasi muda berkarya. Saya sudah merasakan kecewa dengan kekalahan, jadi kegagalan adalah langkah untuk meraih kesuksesan,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#balap liar #modifikasi #hobi