Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gemerlap Pengerupukan Festival 2025 di Desa Adat Buleleng, Setiap Yowana Dapat Stimulus Lima Juta Rupiah  

Dian Suryantini • Senin, 20 Januari 2025 | 16:24 WIB

 

Kreasi Ogoh-ogoh  karya ST Abhirama Devari Banjar Adat Lilindugi yang dinilai tim juri kabupaten saat lomba tahun 2020.
Kreasi Ogoh-ogoh karya ST Abhirama Devari Banjar Adat Lilindugi yang dinilai tim juri kabupaten saat lomba tahun 2020.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rasa rindu akan gegap gempita seni akhirnya terobati. Desa Adat Buleleng kembali menghadirkan Pengerupukan Festival Ogoh-Ogoh 2025, sebuah perayaan yang menggugah semangat yowana sekaligus meneguhkan komitmen menjaga seni budaya Bali.

Setelah sempat absen tahun lalu karena piodalan dan pesta demokrasi, kini suasana desa dipastikan akan kembali hidup dengan parade spektakuler bertema "Nyomya Bhuta Kala Pengerupukan Nyanggra Nawa Warsa 1947, Dharma Dumaranang Desa.”

Jro Nyoman Sutrisna, Kelian Desa Adat Buleleng, mengungkapkan bahwa festival ini adalah janji yang ditepati bagi para yowana di 14 banjar adat setempat. “Ini bukan hanya lomba, tapi panggung ekspresi seni yang penuh makna. Tahun ini, kami ingin melihat kreativitas dan dedikasi para yowana terpancar melalui ogoh-ogoh mereka,” ujarnya dengan semangat, Senin (20/1).

Desa Adat Buleleng tak main-main. Setiap yowana di banjar adat menerima dana stimulan sebesar Rp 5 juta untuk menghidupkan kreasi ogoh-ogoh mereka. Semua karya harus memvisualisasikan bhuta kala sesuai tema. Untuk memacu semangat kompetisi, hadiah total Rp 56 juta telah disiapkan untuk kategori juara 1, 2, 3, serta juara harapan 1 hingga 3.

Baca Juga: KREATIF! Penyuluh Bahasa Bali di Buleleng Gunakan Limbah Plastik untuk Kenalkan Aksara Bali

Festival ini akan digelar pada Jumat, 28 Maret 2025, dimulai pukul 18.00 WITA. Rute arakan dimulai dari depan RSUD Buleleng, melintasi tugu Singa Ambara Raja, menuju Catuspata Desa Adat Buleleng, hingga berakhir di Setra Desa Adat Buleleng.

Gemuruh langkah kaki akan menggantikan deru sound system, karena penggunaan alat elektronik dilarang. Semua mata akan terpaku pada keindahan dan detail ogoh-ogoh, yang dinilai langsung oleh juri dari luar desa.

Para juri terdiri dari ahli seni, budaya, dan akademisi, memastikan objektivitas dari proses penilaian hingga pembuatan. Dengan semangat yang membara, Jro Sutrisna menegaskan bahwa festival ini lebih dari sekadar kompetisi.

“Kami ingin mengembalikan roh tradisi Pengerupukan yang sejati. Kreativitas yowana harus berbicara lewat seni dan budaya, bukan teknologi. Ini cara kami memperkuat ikatan antarwarga dan mengangkat seni lokal ke panggung yang lebih tinggi,” tambahnya.

Baca Juga: Biodata Lengkap dan Kisah Inspiratif Gede Ganesha: Dari Tumpukan Sampah hingga Jadi Penjaga Demokrasi di Buleleng

Suasana Desa Adat Buleleng sudah mulai terasa riuh. Wajah-wajah penuh antusiasme terlihat di wantilan desa, tempat rapat dan diskusi berlangsung. Bantuan stimulan pun sudah mulai disalurkan sejak Jumat, 17 Januari lalu. Semua bersiap untuk menghadirkan karya terbaik mereka.

Pengerupukan Festival 2025 yang diharapkan bukan hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga momentum untuk melestarikan nilai-nilai adat, merayakan keberagaman, dan menyatukan masyarakat dalam harmoni budaya. ***

Editor : Dian Suryantini
#Pengerupukan #festival #ogoh-ogoh #desa adat buleleng