BALIEXPRESS.ID – Jalan perlahan dan suara yang datar menjadi ciri khas Gede Suyasa.
Ia adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng. Suyasa lahir di Tejakula, 10 Juli 1967.
Karier pria tidak berjalan lurus, tapi penuh belokan tajam, tanjakan curam, dan sesekali mungkin ada "batu kerikil" yang membuat tersandung.
Awalnya, Suyasa hanyalah seorang guru biasa di SMAN 4 Singaraja pada tahun 1992.
Namun, seperti kopi yang naik harga saat mendaki gunung, perjalanan karirnya juga terus meroket.
Tiga tahun mengajar, ia pindah ke SMAN 6 Denpasar pada 1995.
Tapi siapa sangka, hidupnya malah berputar balik ke Buleleng pada 2002 untuk menjadi staf ahli Bupati Buleleng. Dari situ, jalannya semakin menanjak.
Setahun jadi staf ahli, Suyasa langsung diberi jabatan sebagai Kasubdin Dikmen.
"Naik kelas" seperti ini sudah biasa bagi bapak 3 anak ini. Setelah beberapa lama, Suyasa digeser untuk menduduki kursi Kepala Dinas Pendidikan, hingga Asisten Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat.
Karirnya seperti motor matic di jalan turunan, tidak dapat berhenti! Ia bahkan sempat jadi Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.
Ketika dinas itu dipecah, ia tetap "aman" dengan jabatan sebagai Kepala Dinas Pariwisata. Setelah itu? Masih lanjut jadi Asisten Administrasi Umum sebelum akhirnya mengikuti seleksi Sekda Buleleng.
Suyasa berhasil melewati tahapan tes yang membuatnya pusing. Assessment, tes makalah, wawancara, sampai nilai rekam jejak.
Hasilnya? Ia mengungguli tiga pesaingnya, termasuk Ni Made Rousmini yang meraih nilai 77,04, sementara Suyasa mencatat angka fantastis 80,16 poin.
Dengan kemenangan itu, ia resmi dinyatakan lolos sebagai Sekda Buleleng pada 17 Desember 2019. Dan, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 821.2/1084/BKPSDM tanggal 2 Maret 2020, Gede Suyasa resmi menyandang jabatan sebagai Sekda Buleleng.
Tapi tunggu dulu, cerita hidup Suyasa tidak hanya soal birokrasi. Masa mudanya penuh "drama" outdoor! Sebagai anggota Mapala 439, ia akrab dengan memar, luka, dan kulit gelap terbakar matahari.
Panjat tebing, turun tebing, hingga mendaki gunung sudah jadi rutinitasnya. Bahkan, ia punya kisah unik soal kopi.
“Beli kopi di bawah harganya cuma Rp 500, di puncak gunung jadi Rp3.000!” kata Suyasa membagi pengalamannya saat mendaki gunung.
Ya, pengalaman mendaki gunung memang sering kali membuat tersadar bahwa "ketinggian" itu mahal.
Kini, Gede Suyasa menjadi sosok yang bersih, rapi, dan penuh wibawa.
Namun, siapa sangka, di balik jas dan dasinya, ada cerita petualangan yang penuh peluh, debu, dan tawa.
Dari guru biasa hingga Sekda, Gede Suyasa telah membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, semua tanjakan bisa didaki.
“Saya selalu berupaya menjalankan tugas sebagaimana mestinya dan mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat Buleleng,” ungkapnya. (*)
Biodata
Nama : Gede Suyasa
Tempat/Tanggal lahir : Tejakula, 10 Juli 1967
Usia : 58 tahun
Hobi : Berolahraga
Zodiac : Cancer
Instagram : @gede.suyasa
Facebook : Gede Suyasa
Editor : Nyoman Suarna