BALIEXPRESS.ID – Tragedi yang menimpa I Made Agus Aditya (26), korban pengeroyokan dan punusukan hingga tewas di Jalan Raya Tojan, menyisakan duka mendalam bagi keluarganya.
Sang ayah, I Made Selamet, tak kuasa menahan kesedihan saat mengenang anak keduanya itu.
Menurut I Made Selamet, semasa hidupnya, Made Agus dikenal sebagai sosok pendiam yang jarang berbagi cerita tentang masalah pribadinya.
“Anak saya pendiam, jarang sekali menceritakan apa yang ia alami kepada keluarga,” tuturnya dengan suara lirih.
Made Agus adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia telah tiga kali bekerja di kapal pesiar dan dikenal aktif berolahraga, terutama bela diri seperti karate dan tarung derajat.
Ayahnya menduga bahwa kemampuan bela diri tersebut sempat digunakan untuk melawan, sebelum akhirnya Made Agus meregang nyawa di tangan tiga pelaku.
“Mungkin sebelum ditikam, anak saya sempat melawan karena ia bisa bela diri,” ujar I Made Selamet mengenang anaknya dengan haru.
I Made Selamet pertama kali mengetahui kabar duka ini dari seorang teman.
Awalnya, ia tak percaya bahwa korban yang dimaksud adalah putranya.
Namun, setelah ditunjukkan foto korban yang bersimbah darah, ia tak mampu lagi menyangkal kenyataan pahit tersebut.
“Saat saya melihat foto itu, hati saya hancur. Bahkan ketika memandikan jenazahnya, saya hanya berani melihat wajahnya. Rasanya pedih sekali melihat tubuhnya penuh luka,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Setelah melalui proses otopsi yang telah disepakati keluarga, jenazah Made Agus dimakamkan pada malam hari tanggal 17 Januari.
Dua hari setelah kejadian, tepatnya pada 20 Januari, keluarga juga menggelar upacara ngulapin untuk menghormati arwahnya.
“Kami sudah menjalankan semua prosesi sesuai adat. Namun, rasa kehilangan ini masih sangat menyakitkan,” ujar I Made Selamet.
Di tengah duka mendalam, keluarga besar Made Agus berharap agar para pelaku mendapatkan hukuman seberat-beratnya.
Bahkan, I Made Selamet menginginkan agar hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku.
“Harapan saya, hukum pelaku seberat-beratnya. Kalau bisa, diberikan hukuman mati. Kami percaya pihak kepolisian bisa menyelesaikan kasus ini,” tegasnya sambil menahan tangis.
Tragedi ini menjadi luka mendalam bagi keluarga dan komunitas di Tojan.
Kepolisian Gianyar kini terus mengembangkan penyelidikan untuk memastikan keadilan bagi almarhum dan keluarganya. (*)
Editor : Nyoman Suarna