Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Mepangkonan di Desa Adat Gesing Dilaksanakan saat Sasih Kenem, Dipusatkan di Ulun Desa

I Putu Mardika • Jumat, 24 Januari 2025 | 03:55 WIB

 

Ulun Desa di Gesing, kecamatan Banjar, Buleleng sebagai tempat pelaksanaan nangluk merana saat sasih Kenem
Ulun Desa di Gesing, kecamatan Banjar, Buleleng sebagai tempat pelaksanaan nangluk merana saat sasih Kenem
BALIEXPRESS.ID-Tilem Sasih Kenem identik dengan pelaksanaan Nangluk Merana bagi desa adat di Bali. Salah satunya Desa Adat Gesing, Kecamatan Banjar yang juga melaksanakan ritual Mepangkonan sebagai bagian dari ritual Nangluk Merana agar desa terhindar dari gerubug.

Seperti diketahui, Desa Gesing menjadi salah satu desa yang tergabung dalam Catur Desa Adat Tamblingan. Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Umejero. Desa-desa inipun memiliki kemiripan adat dan tradisi.

Salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh Krama Desa Adat Gesing adalah Tradisi Mepangkonan. Tradisi ini sebagai ritual menolak bala atau yang dikenal dengan nangluk merana seperti di Bali pada umumnya.

Kelian Adat Gesing, Jro Made Suartika mengatakan tradisi mepangkonan memang dilaksanakan pada Tilem Sasih Kenem. Momentum ini memang dijadikan untuk menolak bala atau nangluk merana agar tumbuhan, hewan maupun masyarakat Gesing terhindar dari Sasab, Gering dan Merana.

Baca Juga: Keren, Desa Wisata Sudaji Sabet Homestay Award ATA 2025

Gering adalah penyakit yang menimpa manusia. Sedangkan sasab merana adalah wabah yang menimpa tanaman. Sedangkan gerubug adalah wabah yang umumnya menimpa hewan atau binatang.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jro Made Suartika menceritakan jika tradisi ini dilakukan sudah sejak turun temurun oleh para leluhurnya di Gesing. Hingga kini tradisi itu juga tetap dilaksanakan.

“Kami selalu rutin melaksanakan Tradisi Mepangkonan ini bertepatan Tilem Sasih Kenem. Kami tidak berani tidak melaksanakan, dan belum pernah juga tidak dilaksanakan, karena memang sudah warisan dari leluhur,” ungkapnya.

Saat Tradisi Mepangkonan dilaksanakan, umumnya diikuti oleh seluruh krama Desa Adat Gesing. Pelaksanaannya di Ulun Desa sebagai pertigaan desa. Prosesi dipuput oleh para pemangku di Desa Adat Gesing.

Sarana yang digunakan saat Mepangkonan pun sudah dilaksanakan sesuai dengan pakem. Dimana, banten harus menggunakan konsep struktur Tri Angganing Upakara. Yaitu ada bagian Ulu (atas), Madya (tengah) dan Sor (bawah).

Baca Juga: Sukses Kelola Waktu: Jro Mangku Widiartha Ungkap Kegiatannya di Sela-sela Memimpin Desa Adat Besakih

Untuk bagian ulu sarana ditujukan kepada para dewa, bagian Madya ditujukan kepada bala ancangan Dewa-Dewi. Sedangkan pada bagian sor sarana ditujukan kepada para bhuta-bhuti untuk menjaga keharmonisan alam.

Khusus untuk bagian Sarana Ulu, menggunakan sarana suci gede, perning kiwa tengen, pengulapan, sorohan matah-matah, lebeng-lebeng. “Untuk banten ulu ini khusus dibuatkan panggungan sebagai tempat banten,” imbuhnya.

Begitu juga untuk bagian madya menggunakan sarana pangkonan lanang istri. Ada pila jajan pangkonan, nasi serta menggunakan dulang sebanyak 18 buah. Ada pula sarana berupa daging ayam hingga telor.

Sedangkan sarana di bagian sor ada caru manca sata. Caru ini menggunakan sarana lima ekor ayam. Seperti ayam putih, ayam hitam, ayam merah, ayam kuning dan ayam brumbun. “Ayam putih dijadikan 11 tanding, merah 11, kuning, hitam 11 tanding, brumbun 33 tanding (tengah),” paparnya.

Prosesi upacara Mepangkonan dilaksanakan hanya dalam waktu satu hari saja, tepatnya di Tilem Sasih Kenem. Upacara ini dilaksanakan sejak pagi hari hingga pukul 12.00 Wita siang di kawasan Ulun Desa.

Dikatakan Jro Made Suartika, setiap upacara Mepangkonan dilaksanakan, biasanya dilakukan persiapan dari sehari sebelumnya. Mulai dari menempatkan asagan di tempat upacara dan menata lokasi upacara.

Pada hari puncak upacara, seluruh krama di Desa Adat Gesing berbondon-bondong datang ke Ulun Desa untuk mengikuti prosesi upacara Mepangkonan sejak pukul 07.00 Wita pagi. Sejumlah pemangku desa juga turut hadir untuk muput ritual ini.

Baca Juga: MIMIH! Ternyata Segini Hukuman Guru SMPN yang Rudapaksa Siswinya: Pantas Istrinya Menangis

Di ulun desa ini terdapat dua buah pelinggih yang dijadikan sebagai tempat pelaksanaan Mepangkonan. Krama mengikuti ritual ini dari pagi hingga pukul 12.00 Wita. Usai acara, krama bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing.

“Di Ulu desa, ada tukad cangkup, dua pelinggih ini adalah Pelinggih Sang Hyang. Seluruh krama terlibat. Karena dalam konteks pesasihan semua adalah tanggung jawab. Pemimpin upacara semua pemangku desa,” paparnya.

Setelah melaksanakan Mepangkonan, kemudian ada pula prosesi Ida Ratu Mas Ngunya Desa. Ida Ratu Mas ini adalah sungsungan di Pura Dalem. “Ida Ratu Mas Ngunya Desa ini artinya seperti ngelawang ke pelosok desa. Tujuannya agar desa diberikan keselamatan sehingga terhidar dari hal-hal negative,” tuutpnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#tilem #Nangluk Merana #Sasih Kenem #Sasih #Gesing