Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Puluhan Ekor Penyu Alami Luka Tusuk Pada Flipper Akibat Ikatan Pemburu

Dian Suryantini • Minggu, 26 Januari 2025 | 11:14 WIB

Dokter hewan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) sedang mengecek aktivitas penyu yang diduga hasil selundupan di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Dokter hewan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) sedang mengecek aktivitas penyu yang diduga hasil selundupan di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sebanyak 22 ekor penyu hijau yang diduga hasil penyelundupan kini dirawat di kolam rehabilitasi milik Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Kolam tersebut berada di tengah laut. Dan cukup jauh dari pemukiman manusia. Puluhan penyu itu dirawat secara intensif oleh dokter hewan Farida Ulya Nugrahatin serta tim dari JSI.

Dokter Farida mengatakan, seluruh penyu hijau yang dibawa ke penangkaran atau pusat rehabilitasi mengalami luka tusuk. Luka itu terdapat pada bagian flipper depan di kiri dan kanan. Hal itu biasanya dilakukan oleh pemburu saat menangkap penyu agar penyu tidak berontak.

“Jadi kalau pemburu mengambil penyu mereka harus menutup bagian flipper depan di kanan kiri, makanya mereka punya bekas luka tusuk. Dan itu sudah kami obati juga,” ujar dokter Farida saat ditemui di kolam rehabilitasi, Sabtu (25/1) siang.

Baca Juga: Cerita Wayan Katon Temukan Penyu di Lahan Kosong , Spontan Berbicara Dengan Penyu Sambil Gemetar, Istri Menangis

Selain mengalami luka tusuk, ada satu ekor penyu yang mengalami luka robek pada flippernya. Farida selaku dokter hewan bersama tim JSI juga telah melakukan upaya pertolongan dengan memberikan sejumlah jahitan pada luka robek itu.

“Mungkin penyu itu sempat berontak, jadi flipernya robek bekas ikatan. Kami sudah jahit. Kemarin saat ditemukan ada yang lemas tapi kami sudah infus, dan sekarang sudah bisa berenang dengan baik. Nafsu makan juga normal,” ungkap Farida.

Kendati tengah mendapat perawatan, dokter muda itu pun menyarankan agar penyu-penyu itu segera dilepasliarkan. Menurut dokter Farida, puluhan penyu itu akan berkembang lebih baik di laut bebas daripada di penangkaran. Terlebih, dari hasil pemeriksaan dan perawatan penyu-penyu itu diklaim telah sehat.

Baca Juga: BKSDA Bali Siap Lepasliarkan 22 Penyu Hijau ke Habitat Alami

“Karena sebenarnya mereka ini hewan liar. Dan seapen ini hanya semi habituasi, bukan habitat aslinya meskipun menggunakan air laut. Memang pada dasarnya mereka ada di laut bebas. Dan selebihnya mereka juga sudah sehat, sudah aktif, Jadi harus segera dirilis,” kata dia.

Selain itu, 22 penyu yang dirawat itu seluruhnya betina. Jika tidak segera dirilis, dikhawatirkan dapat menghambat proses perkembangbiakan pada penyu-penyu itu.

“Semua penyu-penyu ini adalah betina. Khawatirnya mereka ingin bertelur. Jadi kalau bertelur mereka butuh pasir, butuh daratan,” ujarnya.

Baca Juga: Penyu Ditemukan di Bekas Bangunan Pembenihan Udang, Ada Jirigen dan Bungkus Makanan

Kendati demikian, tim medis JSI masih belum memastikan lantaran belum dapat dilakukan cek USG. Saat ini, pengawasan dan perawatan dilakukan melalui pengamatan fisik dan aktivitas penyu.

“Untuk saat ini kami masih belum tahu apakah ada betina yang akan bertelur. Kami belum melakukan cek USG karena perlu alat khusus,” imbuhnya.

Ada tiga kolam rehabilitasi yang digunakan untuk merawat 22 penyu hijau itu. Penyu dengan ukuran besar ditempatkan di kolam medical. Sementara penyu dengan ukuran yang lebih kecil ditempatkan pada dua kolam lainnya.

Penyu dengan ukuran besar memiliki panjang sekitar 102 sentimeter dan lebar sekitar 98 sentimeter. Sedangkan yang berukuran kecil memiliki panjang dan lebar sekitar 40 sentimeter.

“Yang besar-besar itu sekitar 100 kilogram. Bisa diangkat sampai 4 orang,” kata dokter Farida.

Selama berada di kolam rehabilitasi, puluhan penyu itu diberi pakan rumput laut sebagaimana makanan pada habitat aslinya. Meski, asupan makanan yang diberikan di kolam penangkapan tergolong cukup dan ideal, namun penyu akan merasa lebih baik jika berburu makanan sendiri.

“Kalau di alam bebas, mereka bisa makan terumbu karang yang sudah mati, ubur-ubur, koral muda. Variasinya lebih banyak dan jumlahnya banyak. Jadi kebutuhan nutrisi untuk tubuhnya sendiri lebih banyak juga,” ungkap Farida. ***

Editor : Dian Suryantini
#Sumberkima #luka tusuk #jaringan satwa indonesia #penyu hijau di pantai paloh #flipper #buleleng