Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Diwacanakan Pusat, Layanan Water Taxi Bisa Jadi Opsi Berantas Macet di Bali 

Rika Riyanti • Senin, 3 Februari 2025 | 18:41 WIB

Pertemuan Pj Gubernur Bali dan Menko AHY
Pertemuan Pj Gubernur Bali dan Menko AHY

 

 

BALIEXPRESS.ID - Pemerintah Pusat mewacanakan layanan water taxi sebagai solusi alternatif untuk mengatasi kemacetan di Bali, khususnya di kawasan wisata seperti Canggu dan Kuta.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengusulkan layanan transportasi berbasis jalur air ini untuk mengurangi beban lalu lintas darat.

Kepala Dishub Bali, IGW Samsi Gunarta, menyambut baik wacana water taxi dari AHY dan menyebut layanan ini berpotensi mengatasi kemacetan di kawasan Sarbagita.

Saat ini, rencana tersebut masih dalam tahap kajian oleh KSOP Kelas II Benoa Bali.

Baca Juga: Aturan Batasan Sampah Plastik Sekali Pakai Mulai Kendor, Pegawai Pemprov Bali Wajib Gunakan Tumbler Berlaku Hari Ini

“Wacana ini sangat baik sebagai opsi untuk mengatasi kemacetan, terutama daerah Canggu yang jika macet biasa ditempuh sampai 3 jam lebih. Dengan adanya opsi water taxi, mungkin bisa lebih pendek waktu tempuhnya,” katanya belum lama ini.

Senada, Ketua MTI Bali, Rai Ridharta, menyambut baik wacana water taxi ini karena dapat menambah opsi transportasi bagi masyarakat.

Rencananya, layanan ini akan melayani rute dari Bandara menuju Canggu, dengan dermaga keberangkatan di sekitar Hotel Pertamina Cottage.

“Belum jelas berapa jarak berjalan, kemudian rutenya kemana untuk pejalan kaki maupun untuk rute water taxi-nya,” ujarnya.

Baca Juga: KABAR DUKA! Barbie Hsu Pemeran Sanchai di Meteor Garden Meninggal Dunia

Pihaknya menambahkan, keberadaan water taxi ini dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di darat untuk penumpang bandara yang melintasi rute bandara - Canggu yang selama ini macet parah.

Wisatawan akan memiliki banyak pilihan dalam menggunakan transportasi ketika turun di Bandara. Baik menggunakan jalur darat, rel dengan adanya subway, maupun lewat jalur laut melalui water taxi.

“Tentu ini sesuatu hal yang baik, jadi mau naik yang mana, mau naik yang air disediakan, lewat darat ada fasilitasnya, kemudian nanti mungkin akan di bangun subway yang rute-nya dari Bandara ke Canggu hingga Tanah Lot,” terangnya. 

Rencana water taxi ini, dikatakannya, telah dipertimbangkan dari sisi teknis dan bisnis, dengan acuan regulasi yang berlaku untuk transportasi air.

Desain armadanya masih dalam tahap perancangan.

“Dari sisi bisnis, kami MTI tidak bisa ikut campur di dalamnya. Sepanjang bahwa investor atau pihak yang akan mengadakan layanan ini sudah berhitung bahwa jumlah penumpang yang akan diangkut kemudian dihitung dengan re-veneu-nya dibandingkan dengan pembiayaannya secara bisnis masih menguntungkan, tentu ini akan dijalankan. Saya kira tidak mungkin pembisnis atau investor melakukan sesuatu jika tidak ada keuntungannya, karena ini penyediaannya buka dari pemerintah, bukan subsidi, dan lain sebagainya,” ujarnya. 

Baca Juga: Imbas Dugaan Pungli WN China, Pejabat Imigrasi di Bandara Soetta Dicopot Massal

Pihaknya menilai seberapa efektif layanan water taxi ini akan menjadi pilihan wisatawan tergantung dari beberapa faktor.

Diantaranya, waktu tempuh dan biaya yang harus dikeluarkan wisatawan.

Untuk itu, pemerintah sebagai regulator tentu mengawasi apakah aturan-aturan, standar pelayanan dan keselamatan dipenuhi.

Sehingga, akan menjadi pertimbangan pemerintah.

Baca Juga: Oknum Polisi Peras Remaja Kini Ditahan, Begini Penjelasan Kapolrestabes Semarang

“Saya kira untuk memecah kemacetan lalu lintas itu yang di darat, angkutan umum ini harus diperbaiki kualitasnya, dibangun, dikembangkan, dan dijaga keberlangdungannya. Karena dengan angkutan umum orang akan mulai berpindah dan pemerintah bisa melakukan pembatasan-pembatasan penggunaan kendaraan pribadi,” katanya.  

Pengamat Tata Ruang Unwar, Prof. Putu Rumawan Salain, mengapresiasi rencana water taxi, yang dinilai dapat membantu mengatasi kemacetan akibat pesatnya pembangunan pariwisata di Bali selatan.

“Saya kira ini sangat baik. Dari Jimbaran ke Canggu membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 30 menit, ketimbang mereka melalui jalan darat,” kata Prof. Rumawan Salain.

Prof. Rumawan Salain melihat potensi integrasi transportasi water taxi dengan rute panjang yang menghubungkan titik-titik wisata, seperti Bandara, Seminyak, Canggu, dan Petitenget, sebelum kembali ke bandara.

Baca Juga: Viral Karyawan Diduga Hina Profesi Honorer, PT Timah Beri Tindakan Tegas

Selain itu, integrasi transportasi dapat terlihat dari upaya mengantar penumpang dari pesawat atau bandara menuju ke dermaga tempat water taxi terparkir.

Rumawan menilai, hal tersebut dapat dilakukan karena pembangunan dermaga tidak memungkinkan untuk dilakukan di dalam areal bandara, sehingga diperlukan metode transportasi lainnya.

“Bandara itu tidak boleh bersinggungan dengan yang lain, jadi bisa dibuat terowongan atau semacam titik. Dari titik itu, nantinya mereka bisa diantara dengan semacam kereta api kecil atau shuttle, turun di dermaga, lalu menyeberang,” jelasnya.

Meski demikian, menurut Rumawan, masih perlu dilakukan kajian dan studi kelayakan untuk menyempurnakan rencana water taxi ini. Terutama setelah pengguna jasa telah mencapai destinasi yang hendak dituju.

Baca Juga: Sekaa Teruna Eka Budhi Selenggarakan Lomba Ceki, 123 Kupon Ludes Terjual

Dia melihat skema transportasi water taxi memiliki titik kumpul dan titik sebar, tidak sesederhana mengangkut pengguna saja, tetapi memastikan mereka mencapai tujuan dengan nyaman, aman, dan lancar.

“Karena ini sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas transportasi di Bali, harus dibuat dengan seksama agar tidak membangun kemacetan baru di tujuan-tujuan tertentu yang kita koneksikan. Jangan sampai water taximenjadi generator penyebab macet di wilayah tujuan,” terangnya. 

Prof. Rumawan Salain mengingatkan pentingnya perhitungan pembangunan dermaga atau jetty sebagai sarana penunjang water taxi, dengan fokus pada desain yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan.

“Membutuhkan lagi perhitungan-perhitungan teknis sesuai dengan kekuatan alam, gelombang laut, kedalaman pantai, atau pasang surut, sehingga tidak ada lagi penumpang yang basah setelah turun dari kapal,” tutupnya.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #water taxi #transportasi #kemacetan