BALIEXPRESS.ID – Setelah viral sebuah video yang memperlihatkan seekor ular diupacarai layaknya orang meninggal dunia dalam tradisi Hindu Bali, belakangan terungkap kisah mistis dibaliknya.
Setelah ditelusuri, peristiwa itu terjadi di Banjar Adat Gelagah, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. Namun prosesi yang berlangsung bukan Pengabenan seperti halnya yang dituliskan dalam video tersebut, namun prosesi yang berlangsung adalah Penguburan terhadap mayat ular tersebut.
Kelian Banjar Adat Gelagah I Wayan Duduk menceritakan jika di kawasan Banjar Gelagah terdapat suatu tempat yang dianggap angker oleh warga setempat. Dimana di tempat tersebut tumbuh sebuah pohon jenis Klampuak serta ada sebongkah batu kuning keemas an yang dikeramatkan warga. Di sekitar kawasan itu juga ada tiga pura yakni Pura Geria, Pura Paibon, dan Pura Banjar.
Kelihan Banjar Adat Gelagah, I Wayan Duduk, mengungkapkan bahwa prosesi tersebut dilakukan karena warga mengalami kejadian mistis setelah ular ditemukan dan dibunuh. Ular tersebut diyakini bukan hewan biasa, melainkan peliharaan dari Duwe yang menjaga kawasan tersebut.
“Tempatnya ini dekat perempatan, kalau sehabis mecaru disana dilebar carunya, kalau ada warga yang ngotonin disana dibuang sarana upakaranya. Dan sejak dari leluhur kami memang tempat ini dikeramatkan,” ujarnya Senin (3/2/2025).
Sampai kemudian pada hari Kamis pagi (30/1/2025) ada warga yang melihat ada ular sejenis Sanca dengan panjang sekitar 4 meter di lokasi tersebut. Besarnya ukuran ular membuat warga takut sehingga berniat untuk membunuh ular tersebut. “Warga saya ini mencoba memukul ular itu dengan kayu tapi ular itu tida mati, cuma diam saja disitu tidak bergerak,” lanjutnya.
Tak berselang kama, Jro Mangku Kak Darma yang merupakan salah seorang tetua di Banjar Gelagah melintas hendak pergi ke ladang. Ia pun menanyakan apa yang terjadi kepada warga tersebut. Setelah mendapatkan penjelasan, Jro Mangku Kak Darma sempat mengelus kepala ular tersebut dan tangannya bahkan sempat dijilat oleh ular tersebut. Sehingga Jro Mangku Kak Darma berpendapat bahwa ular itu bukan ular sembarangan.
“Tetapi entah bagaimana Jro Mangku tiba-tiba meminta kayu kepada warga disana, ukurannya tidak begitu besar, kemudian dikasi mantra lalu dipukul kepala ular itu sekali langsung mati ularnya,” paparnya.
Sore harinya, saat Jro Mangku Kak Darma pulang dari ladang ia melihat bangkai ular itu masih lokasi tersebut. Sehingga ia dibantu oleh seorang warga dari luar Banjar Gelagah memutuskan membuang bangkai ular itu sejauh 5 kilometer dari lokasi.
“Tapi malam harinya Jro Mangku Kak Darma mendapat pawisik didatangi sosok besar yang mengaku sebagai pemilik ular tersebut dan meminta agar hewan peliharaannya dikuburkan dengan layak. Nah warga luar Banjar Gelagah yang diajak membuang bangkai ular itu juga mimpi serupa mengenai ular tersebut. Dan ternyata warga yang awalnya mau membuat bangkai ular itu juga tiba-tiba panas dingin badannya saat menarik badan ular itu, sehingga bangkai ular itu ditinggalkan di lokasi,” beber Duduk.
Baca Juga: VIRAL! Warga Nusa Penida Gelar Upacara Penguburan Ular Sanca 'Duwe', Begini Ceritanya
Atas pawisik dan mimpi tersebut, Jro Mangku Kak Darma pun memberitahu hal itu kepada dirinya selaku Kelian Banjar Adat dan meminta agar warga dikumpulkan karena Jro Mangku Kak Darma hendak memberikan upakara terhadap bangkai ular yang diyakini merupakan ular ‘Duwe’ tersebut.
“Jadi warga kami mempercayai apa yang disampaikan oleh penglingsir kami (Jro Mangku Kak Darma) sehingga memutuskan untuk ikut melakukan proses Penguburan terhadap bangkai ular itu sebagaimana mestinya lengkap dengan bebantenan. Jadi penguburan ya bukan pengabenan, dan dipimpin langsung oleh Jro Mangku Kak Darma,” tegasnya.
Akhirnya warga Banjar Gelagah bersama-sama melakukan proses penguburan terhadap bangkai ular tersebut dengan tujuan meminta maaf sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Dalam prosesi ini, aura mistis pun semakin terasa karena belasan warga kerauhan (kesurupan). “Ada sekitar 15 orang kerauhan, dan ini baru pertama kalinya dalam Sejarah ada warga kami sebanyak ini mengalami kerauhan,” paparnya.
Usut punya usut, menurut keterangan sejumlah warga ular itu sudah lama berada di kawasan itu, namun jarang terlihat dan biasanya hanya muncul pada malam hari. Hanya saja saat kejadian, tiba-tiba saja ular tersebut berada di lokasi. “Padahal tadinya ada mobil lewat dan warga lewat tapi tidak melihat ada ular,” sambungnya.
Pihaknya pun berharap dengan kejadian ini kondisi di Banjar Gelagah senantiasa tentram, rahayu dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.(*)