Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ni Putu Putri Suastini Koster : Seniman Serba Bisa yang Tetap Setia pada Seni dan Budaya

Dian Suryantini • Sabtu, 8 Februari 2025 | 01:00 WIB

Ni Putu Putri Suastini Koster, istri Gubernur Bali terpilih, Wayan Koster.
Ni Putu Putri Suastini Koster, istri Gubernur Bali terpilih, Wayan Koster.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Salah satu sosok yang begitu lekat dengan dunia seni di Pulau Dewata adalah Ni Putu Putri Suastini Koster. Istri dari Gubernur Bali terpilih, Wayan Koster, ini bukan hanya sekadar pendamping pejabat, tetapi juga seorang seniman sejati yang telah mengukir jejak panjang dalam dunia teater, sastra, dan tari selama lebih dari empat dekade.

Ni Putu Putri Suastini Koster lahir di Desa Padangsambian, Denpasar, pada 27 Januari 1966. Jiwa seni dalam dirinya sudah tumbuh sejak belia. Saat masih duduk di bangku SMP, ia telah menunjukkan bakat dalam seni peran. Ia bergabung dengan Teater Kukuruyuk dan mulai menekuni dunia drama teater secara serius.

Perjalanan seninya semakin berkembang ketika ia beranjak remaja. Saat SMA, bersama para sahabatnya, ia mendirikan Teater Angin yang menjadi wadah bagi anak muda Bali dalam menyalurkan kreativitas mereka. Dari panggung ke panggung, Putri Suastini mulai dikenal sebagai aktris berbakat yang mampu menghidupkan berbagai karakter dengan penuh totalitas.

Bagi penikmat drama klasik era 1980-an, nama Ni Putu Putri Suastini Koster tentu bukanlah sosok asing. Ia sempat membintangi drama klasik Mahabharata yang tayang di TVRI Bali, memperlihatkan kemampuan aktingnya yang memukau.

“Kalau ketemu orang mereka bilang Oh yang main drama itu ya? Yang ada lesung pipinya itu.Begitu kata mereka,” ujar Putri beberapa waktu lalu di salah satu channel podcast lokal Bali.

Baca Juga: Putri Suastini Koster Dorong Generasi Muda Asah Kemampuan Dan Disiplin Melalui Teater

Tak hanya di teater, ia juga menunjukkan kemampuannya dalam dunia sastra. Keindahan dan kedalaman puisinya telah membawanya menjuarai berbagai lomba di tingkat nasional. Kecintaannya pada puisi terus berlanjut, bahkan hingga saat ini ia masih aktif membacakan puisi di berbagai acara seni dan budaya.

Salah satu puisi yang sering ia bawakan adalah "Sumpah Kumbakarna" karya Denok Kristianti. Ia juga telah menerbitkan dua buku kumpulan puisi, yakni Bunga Merah (2017) dan Rumah Merah (2018).

Putri Suastini tidak hanya piawai dalam seni peran dan sastra, tetapi juga memiliki bakat dalam seni tari. Ia pernah meraih Juara 1 dalam lomba Tari Tenun se-Universitas Udayana dan mewakili kampusnya dalam Festival Seni Antar-Wilayah tingkat Kopertis di Banjarmasin. Ia membawakan tarian klasik Bali, seperti Tari Trunajaya dan Tari Oleg Tamulilingan, yang kental dengan unsur keanggunan dan kekuatan ekspresi.

Tak hanya berkiprah dalam seni, Putri Suastini juga aktif dalam berbagai organisasi sejak muda. Ia pernah menjadi pengurus KNPI Provinsi Bali pada tahun 1987 dan aktif di Pemuda Pancasila. Pada 1999, ia memutuskan untuk bergabung dengan PDI Perjuangan Kota Denpasar sebagai anggota partai, menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat dan dunia politik.

Menjadi seorang istri gubernur tidak lantas membuatnya berjarak dengan masyarakat. Ia tetap hadir di tengah-tengah para seniman, penyair, dan penari, membuktikan bahwa seni bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari jiwanya.

Baca Juga: Edukasi Perajin, Putri Suastini Koster Temui Penenun Gringsing Tenganan

Bersama Wayan Koster, ia dikaruniai dua putri, Ni Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani. Meski memiliki berbagai peran, baik sebagai ibu, seniman, maupun figur publik, Putri Suastini tetap mampu menjaga keseimbangan dan terus berkarya.

“Fokus, tulus, lurus. Harus fokus dengan tugas dan tulus, tidak boleh mengeluh. Tulusnya, jangan sampai tergoda hal-hal di luar pekerjaan. Misalnya tergoda memanfaatkan uang, korupsi. Jangan seperti itu,” kata dia.

Dari teater, sastra, hingga tari, jejaknya dalam dunia seni sudah tidak terbantahkan. Ia adalah sosok inspiratif yang membuktikan bahwa perempuan Bali bisa menjadi lebih dari sekadar pendamping. Mereka bisa menjadi pelaku, pemimpin, dan penggerak perubahan melalui seni dan budaya. ***

Editor : Dian Suryantini
#puisi #padangsambian #wayan koster #seniman #Putri Suastini #seni tari #denpasar #seni budaya #teater