Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Komang Sujana: Guru Bahasa Bali yang Setia Menulis dan Menginspirasi

Dian Suryantini • Selasa, 18 Februari 2025 | 01:05 WIB

Komang Sujana, penulis berbakat sekaligus guru Bahasa Bali di SMPN 2 Sawan.
Komang Sujana, penulis berbakat sekaligus guru Bahasa Bali di SMPN 2 Sawan.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Komang Sujana, seorang guru yang berdedikasi sekaligus penulis berbakat, lahir di Tajun, Buleleng, Bali, pada 28 Desember 1990. Sejak Desember 2020, ia mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Bali di SMPN 2 Sawan.

Namun, sebelum menapaki karier sebagai pendidik, perjalanan hidupnya diwarnai oleh berbagai pengalaman, termasuk menjadi Penyuluh Bahasa Bali pada 2016–2017 dan perangkat Desa Tajun pada 2017–2020.

Sejak duduk di bangku kuliah pada 2012, Komang mulai menulis puisi. Karya pertamanya berjudul Cangkit Den Bukit, yang kemudian menjadi judul antologi puisinya. Namun, perjalanannya dalam dunia kepenulisan sempat terhenti pada 2017 dan baru kembali aktif setelah ia lolos seleksi CPNS pada 2020. Sejak saat itu, ia semakin giat menulis dan menghasilkan banyak karya sastra.

Dalam perjalanannya, Komang mendapat dorongan dari sejumlah tokoh sastra Bali seperti I Wayan Artika, Made Adnyana Ole, dan Komang Berata. Ia mengaku, berkat dorongan Made Adnyana Ole, ia berani menerbitkan buku puisi pertamanya. Tak hanya itu, ia juga kerap berdiskusi dengan IBW Keniten untuk memperkaya pemahamannya tentang puisi.

Menulis bagi Komang bukan sekadar hobi, melainkan bentuk tanggung jawab moral sebagai seorang guru Bahasa Bali. Ia ingin menjadi contoh bagi para siswanya bahwa menulis adalah cara untuk memahami dunia dan menyalurkan pemikiran kritis.

“Menulis juga memaksa saya untuk terus membaca dan lebih perhatian terhadap fenomena sekitar,” ujarnya.

 Baca Juga: Menjejakkan Kata, Merajut Makna : Kiprah Made Adnyana Ole dalam Sastra Bali

Puisi-puisi yang ditulisnya banyak bertemakan realisme sosial. Karya-karyanya kerap mengangkat kritik sosial, politik, dan budaya. Seperti puisinya yang berjudul Pesta Kembang Api, yang menggambarkan ironi perayaan ulang tahun kota di tengah kemiskinan.

Atau Cetik Plastik, yang menyuarakan keresahannya terhadap permasalahan sampah di Bali. Ia mengakui bahwa dirinya lebih tertarik pada tema sosial-politik dibandingkan puisi romantik. “Saya memang tidak romantis,” katanya sembari tersenyum.

Prestasinya di dunia kepenulisan juga cukup gemilang. Pada 2021, Geguritan Puja Parisuda Buana karyanya terpilih untuk dimuat dalam buku Sastra Saraswati Séwana Pamarisuddha Gering Agung yang diterbitkan Yayasan Puri Kauhan Ubud.

Tahun berikutnya, ia menorehkan berbagai pencapaian seperti Juara Wimbakara Nyurat Artikel Bulan Bahasa Bali Provinsi Bali 2022, Juara 1 Lomba Esai IGI Bali Competition 2022, Juara 3 Lomba Artikel Ilmiah IGI Bali Competition 2022, hingga meraih Anugerah Saraswati Award dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng.

Tak hanya itu, 25 puisinya menjadi karya terbaik dalam lomba cipta puisi yang diselenggarakan Gerakan Makanti Puisi. Pada 2023, ia lolos seleksi sebagai peserta luring Kongres Bahasa Indonesia XII. Karya-karyanya pun telah banyak diterbitkan di media seperti Nusa Bali, Media Bali, Pos Bali, dan Suara Saking Bali.

Sebagai seorang guru, Komang tak ingin menyimpan bakatnya sendiri. Ia menginisiasi buku kumpulan puisi Bali anyar bertajuk Nyurat Rasa Ngupapira Basa (2023), yang merupakan kumpulan puisi siswanya sebagai bentuk praktik baik revitalisasi bahasa daerah di SMPN 2 Sawan.

Puncaknya, pada 2025, antologi puisinya Renganis berhasil meraih Hadiah Sastra Rancage. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi ini memuat 66 puisi yang khas dalam bentuk dan ekspresi. Penghargaan ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penyair Bali modern yang diperhitungkan.

Namun, bagi Komang, penghargaan bukanlah tujuan utama. “Gerip Maurip saya persembahkan kepada istri saya tercinta, Tri Suryani, dan dua buah hati saya, Gita dan Gangga. Mereka yang senantiasa menghidupkan kata-kata dalam puisi saya,” tuturnya penuh harap. Dengan semangatnya yang tak pernah padam, Komang Sujana terus menulis dan menginspirasi, mengajarkan bahwa sastra adalah suara kebenaran yang harus terus disuarakan. ***

Editor : Dian Suryantini
#puisi #desember #penulis #bahasa bali #sawan #Tajun #buleleng