BALIEXPRESS.ID – Warga Kabupaten Jembrana, Bali, dihebohkan dengan aksi nekat seorang pria berinisial Komang (26) yang diduga sebagai eksibisionis.
Ia beberapa kali dilaporkan melakukan aksi tak senonoh dengan memamerkan alat vitalnya di hadapan perempuan.
Namun, meski telah diamankan polisi, pria ini tak bisa dijerat hukum pidana!
Mengintai Korban di Lapangan Umum
Insiden terbaru terjadi di Lapangan Umum Negara, Senin (17/2/2025) malam.
Saat itu, dua perempuan sedang duduk santai, tak menyangka akan menjadi korban aksi eksibisionisme.
Tiba-tiba, seorang pria mendekati mereka dan langsung memperlihatkan alat vitalnya!
Kedua perempuan itu sontak terkejut dan berusaha menjauh. Namun, yang lebih mengejutkan, pria tersebut malah mengejar mereka!
Aksi ini pun dilaporkan ke polisi, yang bergerak cepat melakukan pencarian. Pelaku akhirnya ditangkap pada Selasa (18/2/2025).
"Sudah tertangkap. Tim dari Reskrim berhasil mengamankan pelaku," ungkap Kapolres Jembrana, AKBP Endang Tri Purwanto.
Baca Juga: Soal Video 1 Menit 14 Detik yang Viral, Bulan Sutena Beri Jawaban Tegas: Begini Katanya
Tak Bisa Dipidana, Ini Alasannya!
Meskipun aksinya meresahkan, polisi tidak bisa menjerat pelaku dengan hukum pidana.
Alasannya? Berdasarkan pemeriksaan medis, Komang ternyata mengalami gangguan jiwa.
Riwayat kesehatan menunjukkan bahwa ia pernah dirawat di RS Jiwa Manah Shanti Mahottama Bali pada 2021 dan baru saja menjalani pengobatan di RSU Negara pada Jumat (14/2/2025).
"Pelaku dengan gangguan kejiwaan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perilaku yang dilakukan," jelas AKBP Endang Tri Purwanto.
Orang Tua Diminta Minta Maaf dan Segera Obati Pelaku
Sebagai solusi, polisi meminta keluarga pelaku untuk meminta maaf kepada masyarakat dan para korban.
Selain itu, orang tua Komang juga berjanji akan membawanya kembali ke RS Jiwa Manah Shanti Mahottama Bali guna menjalani pengobatan yang lebih intensif.
Baca Juga: VIRAL! Video Syur Diduga Oknum Guru, Berjoget Perlihatkan Lekuk Tubuh: Warganet Tunggu Klarifikasi
Kasus ini pun menjadi perhatian publik, mengingat aksi serupa bisa saja terjadi lagi jika pelaku tidak mendapatkan perawatan yang tepat.
Apakah ini akan menjadi akhir dari aksi eksibisionis di Jembrana? ***