Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

 Guntur Juniarta : Menenun Tradisi, Menganyam Masa Depan Lewat Mai Kubu

Dian Suryantini • Senin, 24 Februari 2025 | 21:11 WIB

Gede Guntur Juniarta, penggagas Mai Kubu di Desa Tigawasa, Buleleng.
Gede Guntur Juniarta, penggagas Mai Kubu di Desa Tigawasa, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, seorang anak muda dengan semangat besar tengah berjuang mengangkat kembali warisan leluhur. I Gede Guntur Juniarta, pemuda berusia 26 tahun yang merupakan lulusan Teknik Sipil dari Universitas Brawijaya, memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan rekannya.

Alih-alih meniti karier di bidang teknik, ia memilih menganyam bambu, bukan sekadar sebagai keterampilan tradisional, melainkan sebagai sebuah upaya membangun identitas dan daya saing produk lokal di ranah internasional.

Pemuda kelahiran 2 Juni 1999 itu berkeinginan membawa anyaman bambu Desa Tigawasa ke tingkat global dengan brand Mai Kubu. Nama ini bukan sekadar identitas bisnis, tetapi juga mencerminkan filosofi mendalam. Dalam bahasa lokal, "Mai" berarti "Mari", sementara "Kubu" berarti "Rumah".

Secara harfiah, Mai Kubu berarti "Mari ke Rumah", sebuah ajakan kepada masyarakat, terutama generasi muda, untuk kembali ke desa dan berkontribusi dalam melestarikan tradisi. Menariknya, jika dilafalkan, "Mai Kubu" terdengar seperti "My Kubu" dalam bahasa Inggris, yang berarti "Rumah Saya", memperkuat pesan bahwa setiap orang bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan rumah atau desanya sendiri.

Guntur menyadari bahwa menganyam bambu bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga potensi ekonomi yang luar biasa. Menurutnya, kreativitas dalam menganyam sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Tigawasa secara turun-temurun. Namun, tanpa inovasi dan nilai ekonomi yang berkembang, keterampilan ini bisa perlahan menghilang.

“Anyaman bambu tak hanya sekadar untuk keperluan upacara adat atau perlengkapan rumah tangga tradisional seperti sokasi (tempat nasi), tetapi juga bisa menjadi produk modern dengan nilai jual tinggi,” kata dia.

Baca Juga: Keseruan Menganyam Bambu di Tigawasa, Desa Tua Bali Utara: Hiburan dan Edukasi untuk Wisatawan

Melalui Mai Kubu, Guntur menghadirkan produk-produk inovatif seperti tas bambu, tempat tisu, hingga furnitur artistik yang kini mulai diminati oleh pasar hotel dan industri desain interior. Demi memperkaya wawasan dan memperkuat jaringan, ia tak segan mengikuti berbagai workshop ekonomi kreatif, baik di Denpasar maupun di berbagai kota di Jawa. Langkah ini membantunya mengembangkan strategi bisnis sekaligus membangun sinergi dengan perajin lain di desanya.

Dengan kombinasi kreativitas, kearifan lokal, dan visi modern, Guntur Juniarta tak hanya merajut anyaman bambu, tetapi juga menenun masa depan bagi Desa Tigawasa. Melalui Mai Kubu, ia membuktikan bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan berdampingan, membawa warisan leluhur ke panggung dunia. ***

Editor : Dian Suryantini
#tigawasa #Teknik Sipil #Banjar #bambu #guntur #anyaman bambu #buleleng