SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik selembar kain berwarna indah, ada tangan-tangan kreatif yang bekerja tanpa henti. Salah satunya adalah Andika Putra, seorang pengusaha yang memilih jalan berbeda dalam industri pewarnaan kain. Ketika banyak pelaku usaha tekstil beralih ke pewarna sintetis demi efisiensi, Andika justru kembali ke akar—menghidupkan kembali pewarna alami yang diwariskan oleh leluhur.
Kecintaan Andika terhadap pewarnaan alami berawal sejak ia masih duduk di bangku SMA pada tahun 2002. Kala itu, ia tertarik melakukan eksperimen kecil dengan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Rasa penasaran membawanya pada penelitian otodidak yang semakin dalam.
Berbekal referensi dari Sumba dan Jawa, ia mempelajari teknik pewarnaan tradisional. Namun, satu hal yang selalu menjadi prinsipnya: produk yang dihasilkan harus tetap mencerminkan identitas Bali.
Seiring berjalannya waktu, Andika melihat potensi besar dalam pewarna alami. Pada tahun 2019, ia mendirikan usaha sendiri di bawah nama Pagi Moetly, sebuah brand yang mengedepankan filosofi keberlanjutan dan keindahan alami.
Tak butuh waktu lama, produk-produk Pagi Moetly mulai menarik perhatian pasar internasional. Kain-kain berwarna lembut dengan nuansa bumi, hasil ekstraksi dari daun, akar, dan rempah-rempah, berhasil memikat konsumen dari berbagai negara.
“Saya pilih yang alami karena untuk tubuh lebih aman kalau pakaian itu dipakai. Dari segi ekonomis juga bagus karena marketnya bagus. Pangsa pasarnya untuk luar banyak. Tapi yang lokas sudah mulai tertarik. Saat ini pasarnya masih di pasar luar. Eropa, Asia. Sekarang masuk ke korea. Sekarang ada Jepang yang baru. California ada, Amerika juga ada,” terangnya.
Keputusan Andika menggunakan pewarna alami bukan sekadar soal estetika, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan. Limbah dari proses pewarnaan yang ia lakukan dapat terurai secara alami tanpa mencemari tanah maupun air.
Bahkan, sisa bahan dari pewarna yang ia gunakan bisa dimanfaatkan kembali sebagai kompos. Dalam dunia yang semakin dipenuhi limbah tekstil beracun, Andika menawarkan alternatif yang lebih ramah bumi.
Meski jalannya tak selalu mulus, Andika tak pernah goyah. Ia terus bereksperimen, mencari formula pewarna alami yang lebih tahan lama dan tetap menawan. Bagi Andika, mewarnai kain bukan hanya sekadar proses bisnis, tetapi juga seni yang harus dihormati dan dilestarikan.
Kini, Pagi Moetly bukan hanya sekadar merek, tetapi juga gerakan yang mengajak banyak orang untuk kembali menghargai warisan pewarnaan alami. Lewat inovasi dan ketekunannya, Andika Putra membuktikan bahwa keindahan tak harus merusak alam. Dalam setiap helai kain yang dihasilkan, terselip cerita tentang dedikasi, tradisi, dan tentu saja, kecintaan terhadap warna-warna yang dihadirkan oleh bumi. ***