BALIEXPRESS.ID-Kasus ulah pati yang dilakukan seorang pemuda di Buleleng telah menggemparkan media sosial.
Pasalnya, tak hanya miris dengan aksi nekat yang dilakukan, namun warganet juga dibuat geram dengan beredarnya chat korban dengan seorang perempuan yang diduga adalah orang tua dari mantan pacarnya.
Pemuda yang nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri ialah Ketut Rian Panduwinata, 20 tahun.
Pemuda tersebut berasal dari Banjar Dinas Ideran, Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.
Jenazah Ketut Rian ditemukan pertama kali oleh sanksi Komang Agus Feriana, 32, seorang buruh tani yang juga memelihara babi di bawah rumah korban pada Minggu (2/03/2025)sekitar pukul 17.00 Wita.
Baca Juga: Pidato Perdana Periode Kedua, Bupati Sedana Arta Ajak Masyarakat Bangli Bersatu
Saat hendak memberi makan ternaknya, saksi terkejut melihat korban dalam keadaan tergantung di kusen pintu dapur menggunakan selendang berwarna hitam putih dengan tumpuan kursi plastik.
Agus kemudian memanggil saksi lainnya, Made Gitra, 68, untuk membantu menurunkan korban. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan pada polisi.
Pihak kepolisian dari Polsek Banjar datang untuk melakukan olah TKP.
Polisi juga meminta tim medis dari Puskesmas Banjar II melakukan pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kekerasan atau luka akibat benda tumpul pada tubuh korban.
Baca Juga: Mutasi di Jajaran Polres Bangli, Berikut Daftar Nama dan Jabatan Baru
Kapolsek Banjar, Kompol I Gede Putu Semadi, saat dikonfirmasi membenarkan ada peristiwa orang gantung diri.
“Korban tidak punya riwayat penyakit tertentu. Kemungkinan ada masalah asmara,” ujar Semadi.
Semadi mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi psikologis keluarga dan kerabat terdekat.
Baca Juga: Buntut Sanksi Adat Kanorayang, Tiga KK Di Nusa Penida Kesulitan Air Bersih
"Kami sangat menyayangkan peristiwa ini terjadi. Kami mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi mental orang-orang di sekitar, serta segera mencari bantuan jika ada tanda-tanda depresi atau tekanan emosional yang berat," ujarnya.
Editor : Wiwin Meliana