SINGARAJA, BALI EXPRESS - Malam itu, di sebuah sudut Jalan Lely, Singaraja, seorang perempuan 63 tahun tengah sibuk melayani pembeli di lapak makanannya. Senyum masih setia menghiasi wajahnya, mengingatkan pada sosok yang dulu selalu bersinar di atas panggung.
Dia adalah Made Sarini, nama yang begitu melegenda dalam dunia Drama Gong era 1980-an. Ia pernah menjadi primadona, idola banyak orang, seorang putri yang setiap geraknya dipuja dan ditunggu-tunggu oleh ribuan penonton di Bali dan Lombok.
Namun, di balik keanggunannya di atas panggung, siapa sangka, Sarini pernah mendambakan peran yang berlawanan dengan karakter wajahnya. “Padahal ingin jadi peran jahat. Lebih mudah bagi saya. Tapi panitia casting selalu memilih saya untuk peran baik,” kenangnya sembari tertawa.
Sejak bergabung dengan kelompok Drama Gong Puspa Anom di usia 17 tahun, Sarini memang sudah ditakdirkan menjadi tokoh protagonis. Wajahnya yang keibuan, posturnya yang anggun, serta tatapan matanya yang penuh kelembutan membuatnya begitu cocok memerankan putri-putri kerajaan.
Berawal dari hobi menari dan dorongan keinginan untuk tampil di atas panggung, Sarini memberanikan diri ikut casting setelah mendengar kabar pemeran putri sebelumnya, Jro Sariani, menikah. Keberaniannya membuahkan hasil.
Tak lama kemudian, ia resmi bergabung dengan Puspa Anom, berlatih keras di bawah bimbingan para senior seperti Pan Jedur, Ngah-nguh, Bape Pasir, dan Bape Pandra. Naskah demi naskah ia pelajari, ekspresi wajah ia latih, penghayatan pun terus diasah.
Setiap kali Puspa Anom pentas, penonton membanjiri lokasi. Panggung penuh sesak, antusiasme tak terbendung. Bahkan ketika tampil di Lombok, sambutan begitu luar biasa. “Sampai gak dikasih pulang, seminggu di sana,” kenangnya malu-malu.
Baca Juga: Gede Utama, Penabuh Kendang dari Sari Mekar, Belajar Otodidak
Bukan hanya akting yang membuatnya digilai, pesona alaminya pun membuat banyak penggemar terpikat. Sebagai seorang remaja yang sadar akan perannya sebagai putri, ia menjaga tubuhnya dengan ketat.
“Dulu masih lajang, umur 17 tahun. Jaga body. Tidak makan malam. Tidur pakai sabuk lapis dua supaya badan tetap kencang,” katanya sambil tertawa.
Sarini tak hanya berdiam di zona nyamannya. Ia pernah menerima tantangan untuk memerankan karakter yang jauh dari kelembutan seorang putri. Peran tergila yang pernah ia mainkan adalah menjadi wanita yang benar-benar gila dalam cerita Narapati. Ia harus tertawa, menangis, marah, sekaligus makan dalam satu adegan.
“Paling berat itu peran gila. Harus benar-benar seperti orang gila. Tapi saya coba, eh bisa juga,” katanya penuh semangat.
Selain itu, Sarini juga pernah menantang dirinya dengan memerankan lakon Sampik-Ing Tai. Ia harus menghafal dialog dalam bahasa Cina dalam waktu singkat. “Dua hari lagi pentas, sekarang harus belajar,” ujarnya.
Dengan tekad baja, ia berhasil mengucapkan kalimat berbahasa Cina dengan lancar di atas panggung, membuktikan totalitasnya sebagai seorang seniman sejati.
Panggung Drama Gong mungkin telah berlalu, namun gairah seni dalam diri Sarini tak pernah padam. Kini, ia masih aktif menari dalam upacara keagamaan, tetapi bukan lagi sebagai putri, melainkan sebagai Rangda dalam Calonarang.
Dari peran protagonis ke sosok yang disegani dalam tradisi sakral Bali, Sarini tetap menjaga dedikasi dan totalitasnya. “Kalau odalan di Besakih, saya nari juga. Saya jadi matah gede, ratu leaknya saya,” ujarnya bangga.
Kini, meski sudah tak berkeliling naik truk untuk pentas di seluruh Bali dan Lombok, Made Sarini tetaplah seorang seniman sejati. Dari seorang putri panggung yang dielu-elukan, hingga kini menjadi Ratu Leak dalam tarian sakral, jejaknya dalam dunia seni tak akan pernah pudar.
Seperti emas yang ia terima sebagai upah pentas di masa lalu, kisahnya tetap bersinar, menjadi bagian dari sejarah gemilang Drama Gong Bali. Seorang perempuan, seorang seniman, seorang legenda. ***
Editor : Dian Suryantini