SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kenakalan remaja menjadi permasalahan yang semakin meningkat dan membutuhkan perhatian serius. Faktor seperti kurangnya perhatian keluarga, lingkungan pergaulan yang tidak sehat, serta lemahnya karakter individu menjadi pemicu utama yang menyebabkan perilaku menyimpang.
Menyadari hal ini, Kapolres Buleleng AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi, mengambil langkah preventif dengan memberikan edukasi hukum kepada remaja agar mereka lebih memahami batasan dan konsekuensi atas setiap tindakan yang dilakukan.
Dalam seminar bertajuk "Remaja dan Hukum: Memahami Batasan dan Konsekuensi" di Sekolah Laboratorium Undiksha, Kapolres Buleleng berbagi wawasan mengenai pentingnya memahami hukum sejak dini. Tujuannya jelas: mencegah remaja terjerumus dalam kenakalan yang dapat berujung pada masalah hukum.
“Kadang kita tidak sadar bahwa tindakan kecil bisa berakibat besar. Remaja perlu tahu mana yang bisa dilakukan dan mana yang berisiko menimbulkan konsekuensi hukum. Yang paling penting adalah membangun karakter yang kuat agar tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif,” ujar AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi, Sabtu (8/3/).
Dalam seminar ini, berbagai bentuk kenakalan remaja dibahas dengan lebih santai namun tetap serius. Tawuran antar pelajar, penyebaran konten pornografi di media sosial, hingga tindakan kriminal lainnya menjadi topik yang disorot. Diskusi ini bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi juga mengajak para peserta berpikir kritis mengenai dampak dari setiap tindakan mereka.
Kapolres Buleleng mengingatkan bahwa hukum yang berlaku bagi remaja telah diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Undang-undang ini memberikan perlindungan bagi anak-anak, tetapi juga mengatur sanksi bagi mereka yang melanggar hukum.
“Jangan berpikir bahwa karena masih remaja, hukum tidak berlaku. Justru dengan memahami aturan sejak dini, kita bisa terhindar dari masalah besar di masa depan,” tambahnya.
Selain itu, seminar ini juga menekankan pentingnya toleransi dan rasa saling menghormati untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih kondusif. “Kita harus ingat bahwa keberagaman adalah kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan, tetapi nilai yang harus kita jaga. Dengan bersatu dan saling mendukung, kita bisa membangun masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan edukatif, diharapkan para remaja Buleleng tidak hanya memahami hukum, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, memiliki karakter kuat, dan mampu menjaga persatuan demi masa depan yang lebih cerah. ***
Editor : Dian Suryantini