Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pentas Budaya di Buleleng, Delegasi Thailand Tampilkan Khon, Warisan Budaya Tak Benda yang Diakui UNESCO

Dian Suryantini • Kamis, 13 Maret 2025 | 22:11 WIB

Pertunjukan delegasi dari lima negara yang tampil di panggung terbuka STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Pertunjukan delegasi dari lima negara yang tampil di panggung terbuka STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Wajah-wajah asing silih berganti memasuki Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Rabu (12/3) malam. Kain-kain sutra, sifon, hingga mahkota yang berkilau membalut tubuh mereka. Senyum dan raut antusias tidak dapat disembunyikan. Mereka akan tampil menghentak panggung pertunjukan dengan budaya kebanggaan mereka. 

Puluhan warga asing itu adalah delegasi dari 5 negara dalam rangkaian Buleleng International Rhythms Festival (BIRF). Festival seni internasional ini merupakan kolaborasi UNESCO, International Organization of Folk Art (IOV), Pemerintah Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Santhi Budaya, dan STAHN Mpu Kuturan Singaraja. 

Lima negara yang hadir dalam perhelatan ini adalah Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Bulgaria, dan Jepang. Mereka tampil sangat optimal. Penonton pun tak henti bertepuk tangan. Tentu, sebelumnya mereka telah tampil pula di panggung terbuka STAHN Mpu Kuturan Singaraja pada Selasa (11/3) lalu. 

Usai menghentak panggung gedung kesenian, Kamis (13/3) malam, para delegasi ini juga pentas di RTH Taman Bung Karno, Sukasada. Seperti yang dibayangkan, penonton yang hadir begitu antusias. Mereka penasaran dengan kebudayaan yang selama ini hanya dapat mereka saksikan di TV atau tayangan drama series lainnya.

Sebuah pertunjukan budaya dari Thailand berhasil memikat para penonton di Bali dengan kombinasi apik antara tradisi dan sentuhan kontemporer. Sebanyak 13 anggota delegasi dari Thailand turut ambil bagian dalam acara ini, mempersembahkan seni yang merepresentasikan keanekaragaman budaya negeri mereka.

Saat delegasi Taiwan tampil, penonton terkesima. Tubuh para penarinya begitu lentur bagai tak bertulang. Gerakan melompat, memutar di udara hingga berguling sampai tubuh terbalik, dilakukan dengan begitu mudah.

“Wow, apakah mereka ini tidak memiliki tulang,” begitu gumaman turis Rusia dari kursi belakang penonton sambil menutup mulutnya. Matanya terpana melihat para penari. Sesekali ia menggelengkan kepala. “Tidak mungkin,” begitu lanjutnya sambil menganga.

Baca Juga: RSUD Buleleng Buka Jalan ke Jepang: Kesempatan Emas untuk Mahasiswa Kedokteran dan Keperawatan

Selepas delegasi Taiwan beranjak ke belakang panggung, masuklah utusan dari Thailand. Seperti biasa, kostumnya berkilau lengkap dengan mahkota lancip yang tampak cantik dan mewah. Gerakannya sangat lembut. Namun di akhir, music ceria diputar hingga membuat penonton turut menggoyangkan badan dari kursinya.

Salah satu bagian yang paling dinantikan adalah pertunjukan Khon, seni teater tari klasik Thailand yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Dengan kostum yang mirip dengan hanoman dan gerakan yang penuh makna, pertunjukan Khon menjadi puncak acara yang memukau semua yang hadir.

“Kami menampilkan budaya dari wilayah utara, barat, timur laut, selatan, dan tengah Thailand. Semua berasal dari tradisi rakyat. Namun, ada satu pertunjukan yang istimewa, yaitu Khon,” kata Krailas Chitkul, usai pentas.

Perjalanan panjang dari Thailand ke Bali, yang mengharuskan transit di Malaysia, tak mengurangi antusiasme mereka. “Cuacanya mirip dengan di Thailand, tetapi lebih lembab karena dekat dengan laut. Kami berasal dari Thailand bagian utara, yang tidak memiliki laut,” ujarnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#korea #thailand #Delegasi #jepang #unesco #taiwan #buleleng