BALIEXPRESS.ID – Dalam semarak perayaan Nyepi tahun ini, Banjar Saraswati, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, kembali menghadirkan sebuah karya ogoh-ogoh yang penuh makna spiritual dan filosofi Hindu.
Ogoh-ogoh bertajuk Laraning Wong Ulah Pati ini bukan sekadar wujud kreativitas, tetapi juga refleksi mendalam tentang konsep karma dan siklus kehidupan manusia.
Sebuah Karya Sarat Filosofi oleh Yogix's Paint Bali
Laraning Wong Ulah Pati ini dirancang oleh Yogix dari Yogix’s Paint Bali, yang mengangkat tema Karma Ulah Pati, sebuah fenomena kematian yang terjadi akibat keputusan seseorang sendiri.
"Berbeda dari kematian alami yang merupakan bagian dari siklus samsara (kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali), ulah pati diyakini sebagai kematian yang tidak seharusnya terjadi, didorong oleh putus asa, tekanan mental, dan pesimisme," ujar Yogix, kepada Bali Express, Jumat 14 Maret 2025.
Dalam ajaran Hindu, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru menuju reinkarnasi, hingga akhirnya mencapai moksha (pembebasan dari siklus samsara).
Namun, ulah pati membawa konsekuensi berat. Berdasarkan lontar Parasara Dharmasastra, roh seseorang yang melakukan ulah pati akan terperangkap di alam kegelapan selama 60 ribu tahun sebelum menghadapi pengadilan Sang Hyang Suratma dan eksekusi oleh Sang Jogor Manik.
"Pesan moral yang ingin disampaikan melalui ogoh-ogoh ini sangat dalam, agar manusia senantiasa bersyukur, menerima kehidupan dengan ikhlas, dan tidak menyerah pada keadaan," tandasnya.
Hasil Gotong Royong Warga Banjar Saraswati
Pembuatan ogoh-ogoh ini melibatkan kerja keras Seka Truna Truni Eka Yowana Darma dan seluruh warga Banjar Saraswati.
"Karya ini mendapat dukungan penuh dari Kelian Banjar Saraswati, Ajik Agung Ngurah, serta kontribusi warga, proyek ini berhasil diselesaikan dalam waktu dua bulan dengan anggaran sekitar Rp 30 juta," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua STT Eka Yowana Darma Mahardika mengatakan, karya tersebut diikutsertakan dalam lomba ogoh-ogoh Kesanga Fest yang penilaiannya akan berlangsung pada Sabtu 15 Maret 2025.
"Karya ini tidak hanya menjadi kebanggaan Banjar Saraswati, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat akan pentingnya menghadapi kehidupan dengan kebijaksanaan, menerima tantangan dengan lapang dada, serta menjunjung tinggi konsep karma dalam setiap tindakan," tuturnya.
Saat ogoh-ogoh ini diarak keliling sebelum dibakar, ia bukan hanya simbol pengusiran Bhuta Kala, tetapi juga representasi dari konflik batin manusia dalam menghadapi kehidupan dan kematian.
Dengan demikian, Laraning Wong Ulah Pati menjadi lebih dari sekadar ogoh-ogoh, tapi juga cerminan perjalanan jiwa dalam menggapai kesadaran dan kebijaksanaan. (*)
Editor : I Gede Paramasutha