Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terungkap dalam Yama Purana Tattwa, Ini Makna Teologis Upacara Kematian di Bali

I Putu Mardika • Senin, 17 Maret 2025 | 04:52 WIB

Prosesi kematian dalam Lontar Yama Purana Tattwa sarat akan makna
Prosesi kematian dalam Lontar Yama Purana Tattwa sarat akan makna
BALIEXPRESS.ID-Proses upacara kematian di Bali tidak terlepas dari makna secara teologi, baik dari sisi sarana maupun tahapan ritualnya. Dalam Lontar Teks Yama Purana Tatwa, diuraikan tetang tatacara pelaksanaan upacara kematian.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan, makna Teologis yang tersurat dalam Teks Yama Purwana Tattwa adalah ketika Sang Hyang Yama Dipati menganugrahkan wejangan suksma kepada Sang Pandita Antapan Ender, tentang tatacara mengupacarai atma orang yang meninggal, sehingga lahirlah bentuk-bentuk upacara kematian.

Rangkaian pelaksanaan upacara kematian menurut Teks Yama Purwana Tattwa disebutkan setibanya dikuburan diperciki tirta pangentas, pada waktu proses pembakaran berjalan disertai daksina satu buah, canang 7, uang 225 kepeng, beras empat warna ditempatkan pada tembekur, ditaruh pada dada mayat, semuanya dibakar.

Setelah mayat itu habis terbakar, kemudian arangnya diambil dengan menggunakan sepit, juga bisa dilakukan seperti menggiling diatas sasenden atau batu. Kemudian baru ditempatkan pada bungkak nyuh gading (kelapa gading yang muda), dibuatkan puspa lingga.

Kemudian dihaturkan bubur pirata, ketupat pesor, sesajen punjungan putih, dyus kamaligi, setelah itu buanglah puspa lingga itu sampai pembungkusnya kesungai atau kelaut, begitulah rangkaian pelaksanaannya.

Baca Juga: Satpolair Polres Jembrana Gagalkan Penyelundupan Lima Ekor Penyu Hijau, Temukan Potongan Daging Penyu Didalam Kulkas Milik Pelaku

Selanjutnya sewaktu-waktu dapat dilaksanakan upacara Atma Wedana yaitu Nyekah/Mamukur. Apabila ini sudah terlaksanakan Sang Atma sama-sama mendapat kebahagiaan, dan para Dewata merasa senang berada didunia ini

“Melalui teks di atas dijelaskan bahwa makna pelaksanaan upacara kematian adalah agar sang atma memperoleh kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Brahma yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta,” jelasnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa makna upacara kematian adalah mengembalikan sang atma kepada sang paramatma (sumbernya).

Selanjutnya Teks Yama Purwana Tattwa menguraikan lima bentuk upacara pengabenan, dimana masing-masing bentuk upacara pengabenan tersebut mempunyai makna sendiri.

Dalam Yama Purana Tattwa, dijelaskan hanya orang yang mati secara wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja, disertai dengan upacara supaya roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma.

Walaupun tanpa biaya, dengan jalan upacara swasta gheni. Atma akan berhasil mendapat kebahagian yang abadi.

Melalui teks di atas dapat dipahami bahwa jika upacara pengabenan swastha gheni, yang dipilih untuk dilksanakan maka atma orang yang diaben akan mendapat kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Brahma.

Baca Juga: Sidak Gabungan di Gilimanuk: Aparat Data Penduduk Nonpermanen untuk Jaga Ketertiban Jelang Idulfitri dan Nyepi

Jika Pitra yadnya yang dipilih untuk dilaksanakan maka sang atma akan memperoleh kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Siwa, jika Upacara Pengabenan Nistha yang dipilih untuk dilaksanakan maka sang atma akan memperoleh kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Siwa.

Selanjutnya jika upacara Pengabenan Madhya atau Pranawa yang dipilih untuk dilaksanakan maka sang atma akan memperoleh kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Wisnu, jika Upacara Pengabenan Uttama yang dipilih untuk dilaksanakan maka sang atma akan memperoleh kebahagiaan yang abadi disisi Dewa Mahadewa.

Teks di atas menjelaskan bahwa Dewi Durgadewi adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai penguasa kuburan, Sang Hyang Yama Dipati adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai penguasa atma (roh).

Dewi Umadewi adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi ketika bersemayam di Wantipura, Dewa Brahma adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta alam semesta beserta segala isinya.

Lebih jauh jika memperhatikan prosesi ngaskara yang tersurat dalam Teks Yama Purwana Tattwa, demikian juga gambar ulantaganya, jelas Teks Yama Purwana Tattwa merupakan tuntunan praktis pelaksanaan upacara kematian bagi umat Hindu dengan karakter Siwaisme,

Sebab bagi umat Hindu yang berkarakter Buddhisme, upacara pangaskaraan adalah upacara padiksaan terhadap sang atma.

Rangkaian pelaksanaannya adalah sebagai saat mayat dibersihkan/disucikan seperti prosesi nusang sawa, dipakaikan pakaian lengkap, atmanya dipangggil dengan puja uttapi, selanjutnya dilaksanakan upacara diksa.

Baca Juga: Astra Motor Bali Gelar Buka Puasa Bersama Konsumen Loyal Lebaran Satu Hati Penuh Arti

Setelah upacara pengabenan berakhir dilanjutkan dengan Upacara Nuntun Dewa Hyang, tidak ada upacara ngerorasin atau nyekah.

Selanjutnya gambar ulantaga bagi umat Hindu dengan karakter Buddhisme adalah berupa gambar ulat, sedangkan bagi umat Hindu dengan karakter Siwaisme adalah kupu kupu.

“Jadi secara makna tologis upacara kematian Umat Hindu di Bali Menurut Teks Yama Purwana Tattwa adalah bersatunya Jiwatman dengan Paramatma melalui berbagai jalan yang sudah ditetapkan dalam Yama Purwana Tattwa,” katanya.

Jalan manapun yang ditempuh, maka pada akihirnya ia akan tiba pada tempat yang sama, yaitu Ida Sang Hyang Widhi, karena pada hakikatnya Hindu meyakini Tuhan itu satu adanya, akan tetapi manifestasinyalah yang berbeda-beda.

Selanjutnya melalui pelaksanaan upacara kematian diyakini keluarga yang ditinggalkan dapat membayar hutangnya kepada leluhur, atma leluhur bisa sampai tempat yang dituju (Tuhan Yang Maha Esa), dengan demikian alam semesta akan menjadi tenang sehingga para dewa akan merasa nyaman disana. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kematian #bali #teologi #ngaben #hindu #Lontar Yama Purana Tattwa