BALIEXPRESS.ID – Tokoh politik Arya Wedakarna memberikan tanggapan tegas terkait dugaan pelarangan pawai ogoh-ogoh di Banjar Cepake, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.
Menurut laporan yang diterima, pelarangan tersebut didasarkan pada alasan arus mudik umat lain, meskipun pemerintah pusat telah menutup Pelabuhan Gilimanuk selama tiga hari, yakni 28-30 Maret 2025.
Baca Juga: Waspada! Ditinggal Pulkam Seminggu, Rumah di Padangsambian Disatroni Maling, Ini Barang yang Hilang
Arya Wedakarna mempertanyakan kebijakan ini, mengingat tradisi Hindu seperti pawai ogoh-ogoh biasanya menjadi simbol toleransi dan budaya yang juga dinikmati oleh masyarakat lintas agama.
Dalam unggahan di akun Instagram-nya @aryawedakarna, menyebutkan bahwa kehidupan toleransi di desa sudah sangat baik dan umat lain bahkan senang melihat pawai ogoh-ogoh.
Ia menegaskan bahwa jika pelarangan ini benar terjadi, maka hal tersebut bisa menjadi isu serius yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Arya juga meminta pemerintah lokal Jembrana untuk memberikan klarifikasi atas kebijakan ini dan berjanji akan turun langsung melalui DPD RI Komite Hukum jika masalah ini tidak segera diselesaikan.
Baca Juga: Kecelakaan Lalu Lintas Libatkan Mobil dan Sepeda Motor di Tabanan, Begini Kondisi Pengendara
Ia menambahkan bahwa tradisi Hindu tidak seharusnya mengalah demi kepentingan kelompok lain jika semua pihak dapat berjalan berdampingan.
Arya mendesak berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat hukum, untuk segera mengatasi isu ini agar tidak memicu ketegangan lebih lanjut.
Unggahan tersebut juga menyertakan tagar dan mention kepada sejumlah tokoh penting seperti @jokowi, @prabowo, @gibran_rakabuming, serta institusi terkait seperti @divisihumaspolri dan @listyosigitprabowo untuk memberikan perhatian terhadap kasus ini.
Adapun komentar dari warganet yang miris dengan isu tersebut.
"Ada saatnya kita untuk toleransi, tetapi untuk mempertahanlan tradisi budaya bali, jangan mau tunduk terhadap siapa pun, generasi bali harus berani untuk mempertahankan budaya warisan leluhur!." tulis akun @aryasudiatmika.
Baca Juga: Jalan di Wilayah Tianyar Karangasem Jebol, Bahayakan Pengguna Jalan
"Kalau Gak Mau TerhaLang Next Jangan Ke BaLi gitu aja simPLe,, Ke BaLi Cari makan tapi gak bisa menghormati tradisi budaya org BaLi,, Maunya Cari Makan Ngeruk Rejeki di Bali tapi tidak ikut andil dalam menjaga TAKSU BALI itu sendiri,, Semoga "yg merasa Ter-uSik" dengan Hari Raya Nyepi Kami tdk Kembali Lagi Ke BaLi DIMANA BUMI DIPIJAK DISANA LANGIT DI JUNJUNG." tulis akun. @ayupuja_31.
Adapun komentar dari @antonioblancojr yang juga menyoroti isu tersebut. "Ada saatnya kita harus "toleransi". Tapi kalau sampai budaya dan tradisi kita yg harus mengalah demi kelompok lain... SAATNYA KITA HARUS BERGERAK DAN LAWAN...." tulis akun @antonioblancojr.
"tanah leluhur Bali....dr dulu tidak ada yg namanya larang2 semacam itu..knapa skrg bisa spt ini...sedih sekali." tulis akun @lennypauline.
"Serba serbi Nyepi sudah dimulai kejadian tiap tahun musti DTG dari umat mereka.hmmm minta dihargai tp tidak mau toleransi.kocak ah kalian." tulis akun @nyomanbudhiarmini.
"Klo mau mudik kan bisa mudik lebih awal, ogoh ogoh hrs tetap jln pd mlm ngerupuk...jangan mudik saat ngerupuk.." tulis akun @keboiwa19.
"Bukannya dishub prov bali sudah kasih saran agar mudik maksimal tgl 27 maret, sedangkan ngerupuk tgl 28 maret." tulis akun. @dw.nym.
"Arak Ogoh Ogoh kan tradisi Bali sebelum nyepi..dari leluhur Bali...knp tuan rumah (orang Bali) yg harus mengalah..orang pendatang lah yang harus mengikuti aturan adat yg sudah ada..lain kata kita numpang dirumah orang ya harus mengikuti aturan yg punya rumah." tulis akun @nathajakobsson.
"Lucu ya,, Kita susah " menjaga ajeg Bali tradisi bali,, sekarang disuruh memahami adat budaya lain,, hemmm ahhh siuu." tulis akun. @wie_ras.
Editor : Wiwin Meliana