SINGARAJA, BALI EXPRESS - Buleleng bersiap menghadirkan sirkuit baru yang diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan olahraga otomotif. Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di KONI, berbagai aspek teknis dan sosial terkait pembangunan lintasan ini dibahas secara mendalam, termasuk soal ganti untung lahan serta infrastruktur pendukung.
Kesepakatan itu kemudian berlanjut pada tahapan pengukuran lahan untuk akses jalan di Lingkungan Lumbanan, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Rabu (19/3). Pengukuran dilakukan dengan disaksikan langsung oleh pemilik lahan, pihak kelurahan, BPN Buleleng hingga dinas terkait lainnya.
Salah satu warga yang terdampak, Gede Sandiyasa, 64, seorang petani asli Lumbanan, menyambut baik proyek ini dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Saya mendukung program ini asalkan setelah terealisasi nanti, masyarakat sekitar diutamakan terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia berharap adanya kesempatan usaha setelah sirkuit ini beroperasi, seperti membuka warung kecil-kecilan di sekitar area tersebut.
“Dari pihak pemerintah memang diharapkan kami ini bisa berusaha ketika nanti lintasan ini sudah benar-benar terjadi. Harapan saya sih bisa usaha buka warung kecil-kecilan. Tergantung modal yang saya punya nanti,” kata dia.
Baca Juga: Siap-Siap Sirkuit Buleleng Akan Dibangun di Desa Lumbanan, Pembangunan akan Dilaksanakan Bertahap
Harga tanah di kawasan ini menjadi perhatian tersendiri, terutama bagi warga yang terdampak. Menurut Gede Sandiyasa, harga tanah di daerahnya berkisar Rp 150 juta per are untuk lahan di bagian depan, sedangkan harga tanah di bagian belakang masih belum ditentukan.
Namun, ia berharap pemerintah dapat memberikan kompensasi yang sesuai dengan harga pasar agar warga yang lahannya digunakan tetap mendapatkan keuntungan yang adil.
“Luas tanah saya sekitar 55 are. Katanya nanti dari Denpasar yang akan menentukan. Sekarang belum ada harga yang disepakati. Kalau di Buleleng, harga tanahnya lumayan,” tuturnya.
Panjang akses jalan yang akan digunakan untuk menuju sirkuit, mencapai 650 meter dengan lebar jalan 10 meter. Infrastruktur jalan yang ada saat ini masih dalam kondisi eksisting selebar 3 meter dan perlu diperlebar dengan tambahan masing-masing 3,5 meter ke kanan dan kiri.
Hal ini bertujuan agar jalur ini mampu menampung kendaraan besar seperti tronton dan bus, mengingat standar sirkuit nasional membutuhkan akses transportasi yang memadai.
“Jika hanya 7 meter, kendaraan besar masih bisa berpapasan di jalur lurus, tetapi di tikungan memerlukan tambahan lebar agar lebih aman. Maka dari itu, kami mempertimbangkan opsi penyesuaian desain agar kendaraan tetap bisa melintas dengan nyaman,” jelas I Gusti Ngurah Agus Indranata, pejabat fungsional Bidang Bina Marga, Dinas PUTR Buleleng.
Selain persoalan jalan, beberapa tantangan lain juga dihadapi dalam pembangunan ini, termasuk irigasi dan jembatan yang harus diperhitungkan dalam desain agar tetap berfungsi dengan baik.
“Kami akan memastikan desain jalan ini agar tidak menghilangkan irigasi yang sudah ada. Semua akan diatur agar pembangunan tetap selaras dengan kebutuhan pertanian dan ekosistem yang ada,” tambahnya.
Setelah tahap pengukuran rampung, proses berikutnya adalah pembebasan lahan dan ganti untung bagi warga terdampak. Setelah itu, proses perataan jalan hingga pembangunan fisik bisa dilakukan.
Dengan pembangunan sirkuit ini nantinya masyarakat sekitar berharap dapat merasakan dampak positif, baik dari sisi ekonomi maupun infrastruktur. Selain membuka peluang usaha baru, proyek ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pecinta olahraga otomotif dan mendukung perkembangan dunia balap di Indonesia.
Jika seluruh proses berjalan lancar, sirkuit ini berpotensi menjadi ikon baru bagi Buleleng dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata olahraga. ***
Editor : Dian Suryantini