Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ogoh-ogoh Belog Ajum, Kritik Sosial dari Komunitas Western, Gunakan Kerak Telur dan Kulit Kayu pada Detail Payasan

Dian Suryantini • Kamis, 20 Maret 2025 | 20:00 WIB

 

 

Ogoh-ogoh kreasi dari Komunitas Western Kubutambahan yang dibuat berdasarkan fenomena sosial masyarakat.
Ogoh-ogoh kreasi dari Komunitas Western Kubutambahan yang dibuat berdasarkan fenomena sosial masyarakat.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Menjelang perayaan Nyepi, pembuatan ogoh-ogoh kembali menjadi sorotan. Berbagai kreasi ogoh-ogoh dengan cerita unik mulai bermunculan. Salah satunya karya ogoh-ogoh "Belog Ajum".

Karya ini merupakan buah pemikiran kreatif Gede Joni Mustika, seorang pemuda berbakat berusia 19 tahun dari Banjar Dinas Tegal, Kubutambahan. Terinspirasi dari fenomena sosial di sekitarnya, Gede Joni menuangkan pesan moral mendalam ke dalam setiap detail ogoh-ogoh ini.

Ogoh-ogoh Belog Ajum menggambarkan sifat manusia yang haus akan pujian dan terlalu percaya diri. Sehingga akhirnya jatuh dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.

Melalui "Belog Ajum", Gede Joni memberikan lebih dari sekadar ogoh-ogoh, tetapi juga sebuah refleksi sosial yang mengajak setiap orang untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan.

"Belog Ajum" sendiri berasal dari bahasa Bali, di mana 'Belog' berarti bodoh dan 'Ajum' berarti pamer. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan seseorang yang memamerkan kebodohannya sendiri tanpa menyadari akibat dari sikapnya tersebut.

 Baca Juga: Kembang Rampe, Simbol Rambut Siwa, Letaknya Paling Atas dalam Struktur Canang Sari

Dalam karya ini, Gede Joni membagi ogoh-ogoh menjadi tiga bagian utama, masing-masing memiliki simbolisme yang kuat. Bagian atas, menampilkan sosok dengan senyum licik, menggambarkan manusia yang merasa paling benar dan haus akan pujian. Sosok ini memiliki ekspresi percaya diri berlebihan, seakan dunia berputar di sekelilingnya.

Bagian perut, terdapat kepala manusia dengan pandangan redup. Bagian ini melambangkan individu yang telah tertutup oleh keangkuhannya sendiri, dan terjebak dalam lingkaran kebodohan dirinya.

Bagian bawah, memperlihatkan tubuh yang jatuh dengan leher terlilit. Bagian ini melambangkan individu yang tidak menyadari dirinya tengah terpuruk dalam kegelapan dan seakan tak mampu melepaskan diri dari kebiasaan buruknya.

Dalam proses pembuatannya, ogoh-ogoh ini dibuat menggunakan material ramah lingkungan, seperti kayu, ulatan bambu, kertas bekas, plaster kertas, lem kanji, clay, serta kulit kayu untuk detail kuku. Tak hanya itu, kerak telur juga digunakan untuk memberikan detail lebih pada bagian payasan. “Kami menghabiskan sekitar 15 lembar kerak telur,” ujar Gede Joni, Kamis (20/3).

Dengan tinggi mencapai 4 meter, ogoh-ogoh ini menjadi pusat perhatian karena bentuk dan pesan yang dibawanya. Saat ini, pengerjaan telah mencapai 80 persen menuju tahap finishing, dengan proses pembuatan yang dimulai sejak Desember lalu.

Ketertarikan Gede Joni pada dunia seni bukanlah hal baru. Sejak usia 5 tahun, ia sudah menunjukkan bakat menggambar secara otodidak. Hal ini tak lepas dari latar belakang keluarganya yang kental dengan seni. Sang kakek merupakan seorang pengrajin ukiran, sementara ayah dan pamannya adalah seniman tato.

Meski kini ia tengah menempuh pendidikan di BBC Singaraja jurusan perhotelan, kecintaannya terhadap seni tetap mengalir deras dalam darahnya. “Iya, sejak kecil memang sudah suka menggambar,” ungkapnya.

Pembuatan ogoh-ogoh ini tidak lepas dari dukungan komunitasnya, Komunitas Western, serta partisipasi masyarakat sekitar. Pendanaan diperoleh dari hasil patungan dengan rekan satu tim serta sumbangan dari warga sekitar. Total biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ogoh-ogoh ini diperkirakan sekitar Rp3 juta.

Gede Joni berharap karyanya tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk lebih memahami dampak dari kesombongan dan haus pujian, yang justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran. ***

Editor : Dian Suryantini
#unik #nyepi #ogoh-ogoh #moral #kubutambahan #sosial