Prof. Duija Lahir di Desa Bunutin, Bangli, 31 Desember 1967 silam. Ia merupakan anak kedua dari pasangan suami istri I Wayan Tatag (alm) dan Ni Ketut Sukerti (alm).
Pendidikan dasar hingga menengahnya ditempuh di kampung halamannya. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Bunutin pada tahun 1981, melanjutkan ke SMP Negeri 3 Bangli pada 1984, dan menyelesaikan pendidikan menengah di PGAH Negeri Denpasar pada tahun 1987.
Minatnya dalam bidang kebudayaan dan agama mendorongnya untuk mengambil studi Sastra Bali di Universitas Udayana, di mana ia meraih gelar Sarjana Sastra (S1) pada tahun 1991.
Tidak berhenti di sana, Prof. Duija melanjutkan pendidikan magister (S2) di Universitas Udayana dalam program Kajian Budaya dan meraih gelar pada tahun 2000.
Kecintaannya pada dunia akademik membawanya untuk meraih gelar Doktor (S3) dalam bidang Kajian Budaya di universitas yang sama pada tahun 2005.
Pendidikan ini semakin memperkuat kapasitasnya dalam memahami serta mengembangkan kajian budaya dan keagamaan Hindu di Indonesia.
Karier akademiknya dimulai sebagai dosen di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang kini menjadi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Suami dari Ni Luh Yeni Rosani ini pernah menjabat sebagai Sekretaris Direktur Program Pascasarjana IHDN (2003-2009), kemudian menjadi Direktur Program Pascasarjana (2009-2013), dan akhirnya dipercaya sebagai Rektor IHDN Denpasar periode 2013-2017.
Di dunia birokrasi, Prof. Duija memperoleh kepercayaan besar dalam pengelolaan keagamaan Hindu di Indonesia.
Pada tahun 2022, ia diangkat sebagai Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI melalui Keputusan Presiden.
Jabatan ini menjadi salah satu puncak pencapaian dalam kariernya, di mana ia bertanggung jawab atas berbagai kebijakan strategis dalam pembinaan umat Hindu di Indonesia.
Sebagai seorang akademisi, Prof. Duija aktif dalam berbagai penelitian terkait agama, budaya, dan sastra Bali.
Beberapa penelitian penting yang pernah ia lakukan antara lain studi tentang budaya masyarakat Bali Aga di Desa Sembiran, kajian tentang aksara modre dalam kebudayaan Bali, serta penelitian tentang sistem keberagamaan pada masa Bali Kuno.
Selain penelitian, ayah tiga orang anak ini juga telah menulis banyak karya ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku dan jurnal akademik.
Salah satu bukunya yang cukup dikenal adalah "Tokoh Sabdopalon: Rekonstruksi Pemaknaan Politik Kebudayaan Hindu-Islam di Jawa" yang diterbitkan oleh Pustaka Manik Geni. Selain itu, ia juga menulis tentang transformasi nilai budaya dalam tradisi Melampuhan di Desa Bayung Gede, Kintamani.
Prof. Duija juga aktif dalam berbagai forum akademik dan konferensi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia pernah menjadi narasumber dalam berbagai seminar terkait kebudayaan, sastra, dan agama Hindu. Pengalamannya membawa nama Indonesia ke berbagai negara dalam diskusi tentang Hinduism dan kebudayaan Nusantara.
Dalam pengabdiannya kepada masyarakat, ia juga terlibat dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjadi Sekretaris Litbang Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia.
Selain itu, ia juga aktif dalam Lembaga Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai Koordinator Bidang Sastra.
Di luar kesibukan akademik dan birokrasi, Prof. Duija dikenal sebagai sosok yang memiliki kegemaran membaca, menjelajahi tempat-tempat baru, dan menikmati kuliner tradisional.
Kegemarannya ini menjadi salah satu cara baginya untuk terus menggali wawasan dan memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Kini, sebagai Dirjen Bimas Hindu, Prof. Duija terus berkomitmen untuk memperkuat sistem pendidikan keagamaan Hindu dengan pendidikan berkonsep Widyalaya, mengembangkan moderasi beragama, serta memperkuat harmoni antarumat di Indonesia. (dik)
Editor : I Putu Mardika