BALIEXPRESS.ID – Arya Wedakarna, senator RI, menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan Pemerintah Kota Denpasar yang melarang ogoh-ogoh dipajang di badan jalan.
Larangan ini dianggapnya sebagai pembatasan terhadap kreativitas anak muda Bali dalam merayakan tradisi pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi.
Baca Juga: Rendang 200 Kg Ludes Sebelum Matang: Aksi Berbagi YouTuber Willie Salim di Palembang Jadi Viral!
Dalam unggahan di akun Instagram-nya, @aryawedakarna, ia menegaskan bahwa tradisi ini hanya berlangsung setahun sekali dan seharusnya tidak dibatasi.
Menurutnya, pelarangan tersebut tidak hanya merugikan masyarakat lokal tetapi juga mengurangi daya tarik budaya Bali, terutama saat pariwisata sedang sepi.
Ia mengusulkan agar pemerintah memberikan kebebasan untuk memajang ogoh-ogoh dengan syarat tetap tertib dan menghormati pengguna jalan.
Arya Wedakarna juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas budaya Bali.
Baca Juga: Detik-Detik Angin Kencang Terjang Kawasan Batu Bolong; Warga Panik Menyelamatkan Diri
Larangan ini muncul di tengah persiapan Hari Nyepi 2025 yang bertepatan dengan arus mudik Lebaran.
Pemkot Denpasar beralasan bahwa langkah ini bertujuan untuk mencegah kemacetan dan menjaga ketertiban.
Namun, Arya Wedakarna berpendapat bahwa solusi yang lebih inklusif perlu diterapkan agar tradisi tetap hidup tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Unggahan tersebut ramai dikomentari oleh warganet yang juga setuju dengan pendapat dari Arya Wedakarna yang tidak melarang memajang ogoh-ogoh di tepi jalan karena itu sudah dilakukan setahun sekali oleh pemuda banjar untuk memperlihatkan kreativitas dan hasil karya dari pemuda Bali.
Adapun komentar dari warganet tersebut.
Baca Juga: Bentrok Libatkan Oknum Ormas Viral di Media Sosial, Diduga Terkait Uang THR
"Dari yg aturan kecil nanti jadi permanen dan smua budaya bali nusantara habis di makan aturan, cutetni tyang setuju ajak ajik, semoga ajik sehat slalu biar bisa jaga bali, senator yg berkwalitas niki." tulis akun @henymangurah.
"Buatkan petisi menolak, ajeg Bali adalah yang utama. Jangan sampai krama Bali bernasib sama seperti betawi di jakarta." tulis akun @ibma789.
"Irage dadi nak Bali be prgat ngae ogoh nk dot show up masi mejeng ogoh" pinggir jalan nyen nwnag ade donatur, jek terus gen kne keto aturane ne len" engglan males generasi,, jek berjuang terus jik Rahayu Baliku Senatorku." tulis akun @decxdona.
"Tradisi bertahun2 sudah begitu... lagian bapak polisi repotnya cuman setahun sekali bantu atur lalin,,,kalau bgini akan ada jelous2an misal setiap Jumat depan polda bapak kasi parkir di badan jalan,dsb." tulis akun @gusadi.77.
"Kadang" Heran bane jaman janine jak nyame aeng tegas"ne, be jak nak luar aeng elone. Kar kengken je kedepane ne jeg firasat sing enak gen bane nok kar mirip care kajarta ye mirib nyan." tulis akun @igst.ngurahpriadnyana.
"astungkare sehat2 be ngelarang2 di tanah bali sendiri,, engkenang ajeg bali ne,, to ane stiap jumat ibadah sisi jalan sg je nak bali ade melarang ne atiban cepok." tulis akun @ngakansukma.
Baca Juga: Ribuan Kendaran Diprediksi Tertahan di Pelabuhan Jelang Nyepi, Polda Bali: Hindari Mudik Tanggal ini
"Gak fair dong, tyang saja ampure katolik tiap tahun wenten paskah sama natal itu parkir dan jumlah umat di Katedral (Gereja Renon) pasti lumayan menghambat lalu lintas. Dan niki sudah wajar karena memang hanya event besar tahunan... Masa yang ampure tradisi asli Bali bagian dari Hindu Dharma kok malah dibatasi? Itu lho bukan ajang ajum, tapi memang yang dicari wisatawan bahkan warga lokal sekalipun. Itu iconic dan sudah mentradiso tiap tahunnya. Orang itu pasti keliling ngelihat ogoh² yang dipajang. Kan termasuk ciri khas budaya dan sebuah tradisi atau keharusan tiap tahunnya.. Kok bisa dilarang? Ampure tapi semoga bisa lebih bijaksana. Bener tyang rasa tidak fair. Ogoh ditanah sendiri Iho masa dibatasi ekspresinya... Semoga lebih bijak @denpasarkota Rahayu." tulis akun @mas.riow.
Editor : Wiwin Meliana