Pohon Pule di Pura Luhur Beten Bingin: Diyakini sebagai Tempat Sakral untuk Nunas Tamba dan Memohon Anak Laki-laki!
I Putu Suyatra• Minggu, 23 Maret 2025 | 17:07 WIB
Sebuah pohon pule yang berdiri tegak di jaba sisi tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin, Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kabupaten Badung
BALIEXPRESS.ID – Sebuah pohon pule yang berdiri tegak di jaba sisi tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin, Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kabupaten Badung, diyakini memiliki kekuatan spiritual luar biasa.
Tidak hanya sebagai tempat nunas tamba (memohon obat), pohon ini juga dikenal sebagai lokasi sakral bagi pasangan yang ingin mendapatkan keturunan laki-laki.
Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja, pemangku pura setempat, mengungkapkan bahwa banyak orang datang sembahyang di depan pohon pule dengan harapan segera dikaruniai anak laki-laki.
Keanehan lain terjadi beberapa bulan lalu. Pohon pule ini tiba-tiba terbakar, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan warga.
Namun, setelah dilakukan mapinunas (mencari petunjuk spiritual), terungkap bahwa kejadian itu merupakan isyarat dari Ida agar segera digelar upacara ngenteg linggih—ritual besar yang terakhir kali dilakukan puluhan tahun lalu!
Kemagisan pohon ini semakin terasa ketika ada pamedek (umat) yang nunas tamba karena mendapat petunjuk dari orang pintar. Mereka mengambil serpihan kulit pohon sebagai boreh (obat oles).
Anehnya, pernah ada seseorang yang membawa pulang kayu dari pohon ini untuk dijadikan kayu bakar, namun entah mengapa, ia kembali ke pura dan mengembalikan kayu tersebut!
Tak hanya pohon pule, kawasan Pura Luhur Beten Bingin juga menyimpan kisah mistis lainnya.
Tempat suci Hindu Bali, ini diyakini memiliki rencang (penjaga gaib) berupa ular kobra dan macan.
Sosok gaib ini kerap terlihat oleh Jro Pundut, seorang penari pendet yang selalu ikut dalam upacara piodalan di pura.
“Saya sendiri tidak pernah melihatnya, tapi Jro Pundut bercerita bahwa ada ular dan macan yang menjaga pura. Karena itulah, patung kedua rencang itu dibuat sebagai simbol,” jelas Jro Mangku. ***