BALIEXPRESS.ID-Senator RI Arya Wedakarna menilai bahwa bencana alam yang melanda Bali beberapa hari terakhir ini bukanlah suatu kebetulan.
Bencana pohon tumbang hingga memakan korban dan kerugian, dikaitkan dengan adanya pengarakan ogoh-ogoh yang tidak sesuai dengan waktunya.
Baca Juga: PARAH! Kebakaran Villa di Kuta Selatan: Orang Tak Dikenal Terekam Lempar Molotov, Polisi Buru Pelaku
Melalui media sosial Instagramnya, AWK menyebut bahwa rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan Melasti, Tawur Kasanga, Ngerupuk dengan pengarakan ogoh-ogoh kemudian di pralina dan hari raya Nyepi.
“Pernah gak kita berpikir bahwa di Bali ini tidak ada bencana yang kebutulan,” ungkap AWK dikutip pada Selasa (25/03/2025).
AWK menyebut bahwa saat ini banyak ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan ogoh-ogoh yang dipaksa masuk ke dalam program pemerintah.
“Misalkan ada festival yang berbau penilaian, ada perlombaan ogoh-ogoh yang di arak dari Banjar ke Puspem atau ke lapangan,” jelasnya.
Baca Juga: Guru SMK Meninggal dalam Kecelakaan Tragis, Truk Boks Hantam Tiga Motor
Arya Wedakarna juga menilai juga bahwa waktu pengarakan ogoh-ogoh di Catus Pata tidak dilakukan tepat waktu.
Sebelum rangkaian Pengerupukan, dilakukan upacara Melasti untuk menyucikan Pratima di Pura-pura kemudian baru dilakukan pengerupukan mengusir butha kala, mengarak ogoh-ogoh kemudian di Pralina atau di bakar.
Namun fenomena saat ini, ketika ada perlombaan ogoh-ogoh banyak kelompok-kelompok yang memamerkan biaya yang tinggi dalam membuat ogoh-ogoh, dan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan ogoh-ogoh.
“Saya ingat sekali waktu sekolah, pengarakan ogoh-ogoh hanya dilakukan sekali, setelah itu Nyepi,” jelasnya.
Secara sekala niskala Arya Wedakarna berpendapat jika lomba ogoh-ogoh tidak perlu dilakukan.
Menurutnya ogoh-ogoh merupakan karya kreativitas anak-anak muda jangan mengedepankan hedonitas.
“Tetapi jika pemerintah ingin memberikan hibah kepada anak-anak muda, tyang dukung tetapi bukan untuk dilombakan. Karena perlombaan pasti ada menang kalah, yang tentu akan menimbulkan dendam yang tak tampak di kalangan elit,” jelasnya.
Sebaiknya festival-festival yang berkaitan dengan ogoh-ogoh untuk tidak diadakan karena ogoh-ogoh merupakan bagian dari ritual dan simbol dari mengusir bhuta kala.
“Mari kita mulat sarira dengan bencana alam yang terjadi, saya rasa ini merupakan teguran dari alam karena banyak manusia-manusia yang merasa lebih pintar dari leluhur,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana