Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Lukat Geni di Desa Paksebali, Dilaksanakan saat Pengrupkan, Bertempat di Catus Pata

I Putu Mardika • Rabu, 26 Maret 2025 | 02:20 WIB

Krama saat melakukan Lukat Geni saat Pengrupukan di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung beberapa tahun lalu
Krama saat melakukan Lukat Geni saat Pengrupukan di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung beberapa tahun lalu
BALIEXPRESS.ID-Berbagai ritual dan tradisi di Bali digelar dalam menyambut hari Raya Nyepi Saka 1947 yang jatuh pada Sabtu (29/3) mendatang.

Salah satunya Tradisi Lukat Geni yang diselenggarakan di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung.

Tokoh Puri Satria Kawan, AA Gde Agung Rimawan menjelaskan Lukat Geni juga lazim dsebut dengan Perang api.

Secara etimologi, Lukat Geni Berasal dari kata lukat atau melukat yang artinya membersikan dari kotoran lahir dan batin.

Sedangkan geni berarti api.

“Tidak seperti proses melukat pada umumnya yang menggunakan sarana air sebagai sarana utama, tradisi Lukat Geni ini menggunakan sarana api sebagai sarana utama dalam melaksanakan proses melukat,” jelasnya.

Tradisi Lukat Geni diyakini sebagai warisan budaya yang bersifat sakral.

Munculnya tradisi ini konon bermula dari permainan rakyat yang telah lama dilaksanakan oleh warga Puri Satria Kawan, sehingga menjadi sebuah tradisi yang turun temurun dilaksanakan.

Ada alasan menarik di balik dilaksanakannya tradisi Lukat Geni di Desa Paksebali. Masyarakat desa meyakini tradisi Lukat Geni mempunyai nilai magis dan dianggap sakral.

Sehingga harus dilaksanakan setiap tahun pada saat pengerupukan dengan harapan paraBhuta tidak mengganggu kehidupan manusia.

“Dianggap masuk dalam kategori seni sakral karena pelaksanaan tradisi ini dilaksanakan pada saat pengerupukan di Catus Pata,” imbuhya.

Tradisi Lukat Geni yang dilaksanakan oleh warga Puri Satria Kawan rutin dilaksanakan pada pengerupukan menyambut pergantian Tahun Baru Caka.

Tepatnya pada saat pengerupukan di tileming sasih kesanga, panglong 14 yaitu pada saat matahari mulai terbenam (sandikala).

Disinggung terkait persiapan pelaksanaan tradisi Lukat Geni AA Gde Agung Rimawan menyebut jika ritual tersebut dimulai sejak dua hari sebelum pengerupukan dan dihari pelaksanaan tradisi yaitu pada saat pengerupukan dimulai sejak pagi hari hingga malam hari.

Lukat Geni diyakini sebagai bentuk pembersihan diri, dimana sarana yang digunakan adalah api sebagai simbol Brahma.

Api tersebut berasal dari daun kelapa yang sudah di keringkan atau yang biasa disebut danyuh.

Sarana danyuh sejumlah 36 lembar dan obor sejumlah 33 buah yang digunakan saat tradisi berlangsung.

Jumlah yang digunakan tersebut sesuai dengan dengan penjuru arah mata mata angin atau Dewata Nawa Sanga Selain itu prasarana yang digunakan yaitu gong.

Penggunaan sarana api sebagai pembersihan diri ini diyakini oleh warga Puri Satria Kawan sebagai pembasmi kekotoran dan mengusir atau menghilangkan hal-hal negatif yang ada dalam diri maupun lingkungan.

Sarana banten yang digunakan dalam rangkaian pelaksanaan tradisi Lukat Geni adalah banten prayascita, pejati bang, canang sari.

Banten prayascita merupakan banten yang biasa digunakan untuk melakukan pembersihan diri.

Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan brata. Pelaksanaan brata ini dilakukan sejak empat hari sebelum pengerupukan tiba.

Bentuk brata ini berupa berpuasa baik berpuasa tidak makan selama kurun waktu tertentu maupun tidak berhubungan badan khususnya untuk pelaksana yang sudah menikah.

Setelah itu di hari pengerupukan dilaksanakan tahapan inti pelaksanaan tradisi Lukat Geni. Proses selanjutnya yaitu proses melukat secara umum (menggunakan air) di pancoran-pancoran atau di laut.

Pada proses ini tentunya didampingi oleh Pemangku Agung Puri Satria Kawan dengan membawa sarana yang diperlukan untuk proses pengelukatan ini.

Proses pengelukatan ini masih menggunakan sarana air seperti melukat pada umumnya. Kemudian dilanjutkan dengan melukat geni di sore hari menjelang sandikala.

“Proses selanjutnya tepatnya setelah pengarakan ogoh-ogoh selesai para warga puri akan berkumpul di catus pata untuk melaksanakan Lukat Geni,” ungkapnya.

Pemuda pelaku pelaksana Lukat Geni dibagi menjadi dua kubu dengan jumlah menyesuaikan dengan arah mata angin.

Hanya saja pertarungan terjadi satu lawan satu dengan menggunakan sarana danyuh yang dibakar.

Sejumlah lima orang berpakaian putih, di sebelah selatan sembilan orang berpakaian merah, di sebelah barat tujuh orang berpakaian kuning, di sebelah utara empat orang berpakaian hitam, dan di tengah 8 orang dengan warna pakaian mancawarna.

Waktu pelaksanaannya dimulai pukul 18.30 Wita hingga selesai.

Teknis pelaksanaannya sangatlah sederhana. Yaitu api dari sarana danyuh yang terbakar tersebut digunakan untuk memukul lawannya.

Bahkan, sampai percikan api mengenai tubuh lawan layaknya melukat menggunakan air.

Tokoh Puri Satria Kawan, AA Gde Agung Rimawan menambahkan, Para truna akan maju secara bertahap masing-masing satu pasang atau dua orang.

Keduanya akan saling memukul menggunakan danyuh yang sudah dibakar, ini akan dipandu oleh sekaa gong yang mengiringinya.

“Tidak ada luka ataupun dendam antar sesama pelaku tradisi Lukat Geni ini,” sebutnya.

Mereka akan berhenti saling memukul, jika api pada prakpak telah padam. Setelah semua peserta telah berkesempatan satu lawan satu.

Kemudian dilanjutkan dengan perang beramai- ramai oleh seluruh peserta dari seluruh sudut.

Dalam pelaksanaannya para pelaku yang bertarung tidak menggunakan baju melainkan hanya mengenakan kain saja.

"Proses akhir pelaksanaan tradisi Lukat Geni yaitu persembahyangan bersama guna mengucap rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan kelancaran dalam proses pelaksanaan tradisi," pungkasnya. (dik)

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#ritual #bali #paksebali #Saka 1947 #nyepi #klungkung #tradisi #Catus Pata #Dawan #Lukat Geni