Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Profil Pande Made Dwi Artha, Pelukis Batuan yang Usung Gaya Kontemporer

I Dewa Gede Rastana • Rabu, 26 Maret 2025 | 16:30 WIB
Pande Made Dwi Artha
Pande Made Dwi Artha

BALIEXPRESS.ID – Nama Pande Made Dwi Artha semakin dikenal di dunia seni rupa Bali, khususnya dalam aliran lukisan Batuan.

Lahir di Gianyar pada 4 Februari 1998, seniman muda ini terus mengembangkan gaya kontemporer dengan tetap berpijak pada dasar tradisi lukisan Batuan yang khas dengan detail halus dan komposisi yang padat.

Dibesarkan di Banjar Pekandelan, Batuan, Sukawati, Gianyar, Pande Dwi telah menggeluti seni lukis sejak usia muda. Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Sastra, ia memadukan filosofi Hindu Bali, cerita Ramayana, Mahabharata, serta kisah-kisah rakyat dalam karyanya.

Tak hanya itu, ia juga menambahkan unsur modern serta sensitivitas terhadap perkembangan sosial-politik yang terjadi di Bali.

Sejak 2012, Pande Dwi telah aktif berpameran, baik secara individu maupun dalam kolaborasi bersama seniman lain. Pameran perdananya bertajuk Taksu Batuan yang diselenggarakan di Museum Seni Batuan. Seiring perjalanan kariernya, ia terus mengeksplorasi seni lewat berbagai pameran, seperti Kebyar Seni XIV (2013), The Painting of Batuan – WoW! (2015), hingga Dwi’s Imagination (2023) di DA Studio of Batuan.

Pameran tunggalnya yang cukup mencuri perhatian adalah Define Us di Neka Museum pada tahun 2018 dan Urip Awakening di TiTian Art Space pada 2017. Karya-karyanya mengusung perpaduan antara seni klasik dan kontemporer, sebuah ciri khas yang membuatnya memiliki tempat tersendiri di dunia seni lukis Batuan.

Selain aktif berpameran, Pande Dwi juga mendokumentasikan pemikirannya dalam buku seni. Ia telah menerbitkan dua buku, yakni Enchanting Motion (2017) dan Define Us – A Fusion of Classical and Contemporary Art (2018). Kedua buku ini menampilkan perjalanan eksplorasi seninya dalam memahami dan mengembangkan lukisan Batuan dengan pendekatan baru.

Di era digital, Pande Dwi juga aktif berbagi karyanya melalui media sosial. Akun Instagramnya, @dwi_arts, serta TikTok @dwarts.ki menjadi wadah untuk memperkenalkan seni lukis Batuan kepada khalayak yang lebih luas, termasuk generasi muda yang mulai tertarik pada seni tradisi dengan sentuhan modern.

Dengan segala pencapaiannya, Pande Made Dwi Artha terus berupaya memperkaya seni lukis Batuan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan esensi dan filosofi yang telah diwariskan oleh para maestro sebelumnya.

Kendatipun demikian ia mengakui jika menjadi pelukis ada suka dan dukanya. "Dukanya mungkin minim apresiasi dalam negeri. Ini terjadi karena persepsi orang-orang terhadap karya seni itu sendiri hanya sebatas barang dekorasi saja padahal seni itu sendiri miliki nilai yg lebih dari itu yang bisa mengenalkan budaya dan tradisi lewat karya seni sehingga berdampak ke eksposur global yang lebih luas," ujar alumni SMPN 2 Sukawati tersebut.

Namun sukanya ia merasa memliki peluang besar sebagai konten kreator

"Sebagai pengembangan diri. pelukis cenderung mampu mengontrol emosionalnya dalam tingkat apapun. Demi menghasilkan karya yang bagus tentunya butuh kondisi mental batin yang sepadan. Serta dapat membantu kegiatan sosial di pura, seperti halnya membuat umbul-umbul, kober dan beberapa hal yang berkaitan dengan kesenian," tandasnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#pelukis #kontemporer #seni rupa #gianyar #Batuan #profil