Tradisi ini digadang-gadang dilakukan sejak ratusan tahun, dan bahkan menjadi simbol penghormatan terhadap alam.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Krama Desa Adat Bengkala berbondong-bondong ngayah menyiapkan sarana pecaruan Tawur jelang Pengrupukan pada Jumat (28/3) pagi di Pura Desa.
Para krama lanang sibuk mebat memasak daging babi untuk diolah menjadi sarana caru di areal jaba pura. Ada yang bertugas membuat bumbu, memarut kelapa hingga mengolah daging.
Usai masakan matang, kemudian lawar tersebut dibagi kepada krama Desa Adat Bengkala. Teknisnya, krama menyiapkan daun jati sebagai pembungkus yang disebut kawisan.
Daun jati ini masih berwarna hijau segar. Sebelum digunakan daun jati tersebut dibersihkan terlebih dahulu. Krama begitu telaten membungkus lawar ini dengan menggunakan daun jati.
Satu kawis lawar tersebut diterima oleh setiap krama Desa Adat Bengkala. Selain untuk dinikmati bersama keluarga di rumah, lawar tersebut juga ditaburkan di areal kebun, dengan harapan untuk dapat memberikan kesuburan.
Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa menjelaskan, pembuatan kawisan dilaksanakan setiap upacara di Kahyangan Desa. Begitu juga saat Tawur kesanga menyambut Hari Raya Nyepi
“Tradisi ini sudah dilaksanakan dari generasi ke generasi, artinya sudah ratusan tahun,” jelasnya.
Kalau dihubungkan dengan kebijakan Pemprov Bali terkait pengendalian sampah di pura kahyangan desa, menurutnya penggunaan daun jati ini dapat menekan penggunaan plastik dalam kegiatan ritual.
Menurutnya, penggunaan daun jati bukan sesuatu yang baru di Bengkala, karena leluhur orang Bengkala sudah membuat kebijakan ini.
“Contohnya dengan penggunaan daun jati Bali. Apalagi ada semacam keyakinan bahwa paica itu tidak harus kita habiskan, tetapi sampai di rumah bisa ditabur atau metabuh, baru bisa dimakan,” ungkapnya.
Kalau tidak habis dimakan, sambungnya maka bisa ditabur di kebun. Krama memiliki keyakinan menabur sisa lawar ke kebun dapat memberikan kesejahteraan, kesuburan.
Selain di Pura Desa, krama juga melakukan pecauran dengan menggunakan sarana banteng (Sapi) di pura Dalem. Konsepnya juga sama dengan menggunakan daun jati sebagai pembungkus lawar.
“Kami tidak menolak modernisasi, tetapi, ini cukup signifikan baik efisiensi, kebersihan di pura. Kalau menggunakan dedsaunan tentu jauh lebih cepat terurai.
Dulu, kawisan bisa dinikmati dengan duduk di pura. Namun sekarang karena jumlah krama kian bertambah banyak, maka disarankan agar kawisan dibawa pulang ke rumah. “Paling hanya prajuru saja yang menikmati kawisan di pura,” katanya.
Ia menjelaskan, ada sejumlah kelebihan jika membungkus lawar dnegan daun jati ketimbang dibungkus dengan kertas minyak atau mika.
Daun jati itu membuat tahan lama. Karena menyerap airnya, menyerap lemaknya. Bisa sehari lawarnya bisa disantap.
Meski demikian, ia tidak khawatir akan ketersediaan daun jati. Karena sampai saat ini pohon jati masih sangat lestari dan banyak ditemukan di Desa Bengkala
“Kami juga melarang krama yang nangkil ke pura membawa minuman plasti. Jadi kalau bisa bawa tumbler. Tujuannya tentu untuk mengantisipasi timbulan sampah plastik yang tidak terkendali,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika