Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Siat Yeh Banjar Teba Jimbaran, Kembali Digelar Sebagai Pengelukatan

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 30 Maret 2025 | 23:36 WIB
TRADISI: Pelaksanaan tradisi siat yeh di Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan, Minggu (30/3).
TRADISI: Pelaksanaan tradisi siat yeh di Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan, Minggu (30/3).


BALIEXPRESS.ID - Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran kembali menggelar tradisi siat yeh pada Hari Ngembak Geni.

Tradisi perang udara yang diikuti masyarakat ini merupakan bentuk pengelukatan atau pembersihan diri. Tradisi ini pun merupakan rekonstruksi kebiasaan masyarakat Jimbaran sekitar 30 tahun yang lalu.

Tradisi ini diawali dengan prosesi mendak Toya atau mencari udara di dua titik pantai. Para ibu-ibu sejak pukul 08.00 Wita membawa kendi tanah liat menuju pantai timur dan barat. Nantinya air dari dua tempat tersebut akan disatukan untuk pelaksanaan tradisi siat yeh.

Kelian Adat Banjar Teba, I Wayan Eka Santa Purwita mengatakan, tradisi ini merupakan upacara pengelukatan yang disimbolkan dengan siat yeh. Tradisi ini juga sebagai wujud rasa syukur dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui pelaksanaan siat yeh ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas diri serta menjadi dasar untuk kehidupan yang lebih baik.

“Siat yeh ini menjadi sarana melukat untuk menghilangkan hal-hal buruk yang ada dalam diri manusia,” ujar Purwita, Minggu (30/3/2025). 

Pihaknya menyebutkan, proses ini sejalan dengan pelaksanaan Catur Brata Nyepi saat perayaan hari raya Nyepi, yakni masyarakat mulat sarira atau mengintrospeksi diri. Kemudian di hari ngembak geni, dilanjutkan dengan pengelukatan atau pembersihan yang disimbolkan dengan siat yeh.

Sejak kembali dibangkitkan, Purwita mengaku telah dilaksanakan 6 kali Siat Yeh. Tradisi yang merekonstruksi kebiasaan masyarakat terdahulu ini bahkan sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Pihaknya pun akan terus menjalankan tradisi ini setiap tahunnya. Namun tantangannya adalah membangkitkan antusias masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan di antara warga. Kedepannya masyarakat sangat mendukung, apapun kegiatan yang sudah disepakati dan menjadi tanggung jawab tetap kami jalankan,” paparnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#ngembak geni #tradisi #Siat yeh #perang